Lappung – Segmen ultra mikro lending memiliki resiko tinggi karena berhubungan dengan orang-orang yang lebih dekat secara personal.
Segmen ultra mikro lending juga menerapkan metode peer group lending.
Tidak banyak bank yang mau repot mengurusi person to person, dengan scalabilitas dari bisnis ini tidak sebesar segmen korporat.
Segmen korporat yang menawarkan return yang menarik namun risiko terukur baik.
Dibalik keribetan dan risiko yang tinggi yang dihadapi bank segmen ini, ternyata historinya pernah menjadi salah satu penopang ekonomi India.
Baca Juga : Triniti Land Tancapkan Bisnis di Lampung. Rycko Menoza: Pertama di Sumatera dan Indonesia
Segmen ultra mikro lending menawarkan inklusifitas keuangan secara lebih luas kepada orang-orang yang sebelumnya tidak bankable.
Apakah yang bisa kita pelajari dari studi yang ada untuk menjadi sukses dalam segmen ini?
Dalam studi oleh Conlin (1999) di Journal of Development Economics, dia mencoba membandingkan kegagalan segmen ultra mikro lending dengan metode peer group lending di Amerika dan Canada versus keberhasilan segmen ini di Grameen Bank.
Beliau merumuskan kunci keberhasilannya terletak pada information transfer, peer pressure, monitoring, mutual insurance, dan cost of entering a new relationship.
Dengan menjamin adanya hal tersebut diharapkan lending akan lancar dengan repayment rate yang baik.
Yang pertama dan terutama adalah adanya information transfer atau dalam arti konteks ini adalah bank yang melayani peer group lending harusnya melakukan pemberdayaan atas lendernya.
Memberikan pemahaman dasar dasar keuangan dan bagaimana mengembangkan modal yang diberikan dengan baik.
Ingat bahwa segment ini banyak menyasar komunitas atau masyarakat yang belum sepenuhnya bankable, dimana the most basic literacy about finance mungkin meragukan.
Hal ini menghighlight kebutuhan akan pemberdayaan (information transfer).
Siapa yang memberikan hal ini tentu officer atau supervisor group, dimana haruslah orang yang kompeten.
Tidak asal dengan requirement yang minim dan pelatihan kilat. Ini jelas menghancurkan adanya information transfer.
Tidak hanya itu sebenarnya juga perlunya mendesain group dengan latar belakang yang berbeda namun dengan jenis manajemen yang sama dan tingkat profil kesuksesan anggota grup yang diatur.
Secara praktis misalnya adalah menggabungkan anggota yang profilnya sukses dan produktif dengan anggota yang belum produktif sehingga terjadi transfer informasi antar grup.
Baca Juga : Harga Beras Dorong Inflasi di Provinsi Lampung
Dalam konsep yang dijelaskan Conlin yang kedua adalah peer pressure. Dimana ini dilakukan dengan mendesain anggota grup dengan tingkat kekerabatan (prefer keluarga) yang tinggi dan atau bekerja dalam satu kantor atau seindustri dan saling mengenal.
Mungkin teman teman bertanya, bagaimana dengan skema tanggung renteng?
Studi menunjukkan skema ini hanya memperkuat monitoring, tetapi peer pressure itu muncul jika sudah ada hubungan sosial yang terjadi sebelumnya.
Kunci Sukses Segmen Ultra Mikro Lending dan Resiko
Hal ini menghighlight juga mengapa peer group lending ini mempunyai kesuksesan yang beragam pada banyak negara, simply karena budaya dan hubungan antar manusianya berbeda.
Di India hubungan kekerabatan masih sangat erat dalam satu kompleks, bisa jadi saudara jauh sehingga bisa timbul peer pressure yang kuat.
Selanjutnya adalah monitoring, ya simpelnya supervisor harus memonitor lender terkait repayment rate atau menerapkan peer monitoring dengan tanggung renteng.
Mutual insurance maksudnya adalah bagaimana grup dibentuk dengan memperhatikan profil risiko setiap nasabah dengan baik sehingga risiko gagal bayar bisa ditekan.
Lalu cost of entering a new relationship simply tells kalau orang baru masuk ke suatu lingkungan baru tentu Ia lebih susah untuk diajak kerja sama sehingga jika sudah kenal satu dan lainnya group lending ini bisa lebih efektif.
Selain itu hal ini bisa dikontrol dengan sering bertemu diawal awal terbentuknya group.
In conclusion, sebenarnya peer group lending ini sudah lama sekali ada dan kesuksesan/kegagalan beragam di banyak negara.
The key success tips sudah dipublikasikan di banyak journal dan tinggal bagaimana bank di Indonesia bisa mentranslasikan ke dalam muatan lokal.
Baca Juga : Sambut Hari Pelanggan Nasional, ASDP Benahi Pelayanan di Merak-Bakauheni
Jangan berfokus pada margin profit saja tapi ingat bahwa ultra microlending tujuannya adalah menawarkan inklusifitas dan pemberdayaan masyarakat yang lemah secara literacy keuangan.
Bank harus mendesain group agar favorable terhadap program dan risiko mereka. Tidak lupa bahwa semua pendekatan yang dilakukan jangan hanya test and retest saja, melainkan evidence and data based.
Apakah BTPS bagus dalam hal ini? Silakan diperiksa. Saya lebih bullish ke PNM
Semoga membantu,
Komunitas GoInvest
Prosper together
