Lappung – Puluhan pelajar di Desa Tri Sinar, Kecamatan Marga Tiga, Kabupaten Lampung Timur, harus menggunakan rakit bambu untuk menyeberangi sungai demi mencapai sekolah.
Ketiadaan jembatan penghubung membuat para siswa memilih jalur air meski berisiko, daripada harus menempuh jalur darat yang memutar sejauh 10 kilometer.
Baca juga : Jembatan Rusak di Tanggamus Paksa Siswa Bertaruh Nyawa, Pemerintah Janji Turun Tangan
Di lokasi, para pelajar tampak antre menggunakan rakit berkapasitas tiga orang yang digerakkan manual menggunakan tali tambang.
Sungai yang dilintasi diketahui memiliki kedalaman mencapai belasan meter dengan arus yang cukup deras, terutama saat musim hujan.
Kepala MTS Ma’arif Darul Rahman Melaris, Desy Anggraini, membenarkan kondisi tersebut.
Menurutnya, mayoritas siswa yang tinggal di seberang sungai mengandalkan rakit karena efisiensi waktu, meskipun faktor keselamatan menjadi taruhan.
“Jika tidak menggunakan rakit, siswa harus berjalan kaki memutar sekitar 10 kilometer.
“Pihak sekolah memberi toleransi keterlambatan hingga pukul 09.00 WIB bagi siswa yang terkendala akses penyeberangan ini,” ujar Desy, dikutip pada Selasa, 9 Desember 2025.
15 Tahun Tanpa Perbaikan
Warga Desa Tri Sinar, Sudarmono, menyebutkan kondisi infrastruktur yang minim ini sudah berlangsung selama 15 tahun.
Baca juga : Genjot Konektivitas, Pemprov Lampung Kejar Tayang Proyek 21 Jembatan
Rakit bambu tersebut dibuat secara swadaya oleh warga sebagai satu-satunya akses transportasi alternatif bagi masyarakat yang tidak memiliki kendaraan bermotor.
“Ini akses satu-satunya bagi warga yang tidak punya motor dan anak sekolah.
“Kebun warga juga banyak di seberang. Kami berharap pemerintah segera membangun jembatan permanen,” kata dia..
Sementara itu, Babinsa Desa Tri Sinar, Serda Saiful Setiawan, menyatakan pihaknya rutin melakukan pengawasan di lokasi penyeberangan pada jam berangkat dan pulang sekolah untuk mengantisipasi kecelakaan air.
Hingga berita ini diturunkan, warga masih menunggu realisasi pembangunan jembatan dari Pemerintah Kabupaten Lampung Timur maupun Pemerintah Provinsi Lampung untuk menunjang aktivitas pendidikan dan ekonomi warga setempat.
Baca juga : Usai Viral, Pemerintah Keroyokan Benahi Jembatan Taruhan Nyawa di Tanggamus





Lappung Media Network