Lappung – Pesta rakyat terbesar di Bumi Ruwa Jurai, Lampung Fest 2025, resmi bergulir.
Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, membuka perhelatan ini di PKOR Way Halim, Bandarlampung, pada Rabu malam, 12 November 2025.
Baca juga : Goda Lidah di Lampung Fest, 37 UMKM Sajikan Menu Autentik Terkurasi
Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, festival yang akan berlangsung selama 15 hari ini mencatatkan sejarah baru.
Pasalnya, terselenggara sepenuhnya tanpa menggunakan 1 rupiah pun dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
Mengusung tema “Coffee and Tourism”, Lampung Fest 2025 menjadi panggung pembuktian kemandirian daerah lewat kolaborasi inklusif.
Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung sukses menggandeng sektor swasta, komunitas, akademisi, hingga ratusan pelaku UMKM untuk mendanai dan meramaikan acara secara gotong royong.
Gubernur Mirza, sapaan akrab Rahmat Mirzani Djausal, memberikan apresiasi tinggi atas model kolaborasi ini.
Menurutnya, kemampuan Dinas Pariwisata menggelar perhelatan besar tanpa membebani kas daerah adalah bukti tingginya kepercayaan publik dan swasta terhadap pemerintah.
“Saya sangat bangga, di tengah semangat efisiensi, kita mampu menggelar kegiatan sebesar ini tanpa APBD.
“Ini bukti nyata bahwa banyak pihak percaya dan mau bergandengan tangan membangun daerah,” tegas Mirza.
Kopi
Pemilihan tema Kopi dan Pariwisata bukan tanpa alasan.
Mirza menyoroti data ekonomi kuartal pertama tahun ini, di mana ekonomi Lampung tumbuh 5,4 persen tertinggi di Sumatera.
Setelah dibedah, lonjakan ini ternyata ditopang kuat oleh komoditas kopi.
Sebagai penyumbang 70 persen ekspor kopi nasional, Lampung memiliki posisi strategis.
Namun, Mirza mengingatkan adanya tantangan besar: dominasi ekspor dalam bentuk biji mentah (green bean) yang membuat nilai tambahnya lari ke luar negeri.
“Ironisnya, kopi Lampung yang begitu besar potensinya masih diekspor mentah. Sesuai arahan Presiden, kita ubah haluan. Fokus kita sekarang adalah hilirisasi,” ujarnya.
Baca juga : Jangan Bikin Rencana Lain! Lampung Fest 2025 Siap Manjakan Mata, Lidah, dan Telinga Anda
Sebagai langkah konkret, ia mengapresiasi keberhasilan ekspor kopi olahan (roasted coffee) perdana yang dilakukan jenama lokal, El’s Coffee.
Ia berharap momentum Lampung Fest ini memicu pengusaha lain untuk berani melakukan hilirisasi demi kemandirian ekonomi.
28 Juta Wisatawan
Sinergi antara kopi dan pariwisata dinilai sebagai strategi jitu menciptakan pasar baru.
Gubernur Mirza memaparkan proyeksi kunjungan wisatawan ke Lampung tahun ini yang diperkirakan menembus 28 juta orang, naik signifikan dari 18 juta pada tahun 2024.
Dengan rata-rata belanja wisatawan yang diprediksi naik menjadi Rp1,8 juta per kunjungan, potensi perputaran uang sangat besar.
Mirza ingin wisatawan tidak hanya menikmati keindahan alam, tetapi juga menjadikan kopi Lampung sebagai buah tangan wajib.
“Kami ingin wisatawan mengenal Lampung bukan hanya karena pantainya, tetapi juga karena kopinya. Inilah wujud pariwisata yang memberi nilai tambah nyata bagi warga lokal,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kadisparekraf) Provinsi Lampung, Bobby Irawan, melaporkan bahwa Lampung Fest 2025 digelar mulai 11 hingga 25 November 2025.
Masyarakat dapat masuk secara gratis untuk menikmati hiburan dan mengunjungi stan pameran.
Target transaksi selama festival dipatok cukup fantastis, yakni di kisaran Rp30 hingga Rp50 miliar, dengan melibatkan lebih dari 40 perusahaan, 14 Organisasi Perangkat Daerah (OPD), dan 250 UMKM.
“Ini adalah tindak lanjut gerakan Bangga Berwisata dan Bangga Buatan Indonesia. Kami menyajikan beragam festival mulai dari Seruput Kopi, budaya, hingga festival musik terbesar di luar Jawa, Lampung Phoria,” jelas Bobby.
Baca juga : Masuk Gratis! Lampung Fest 2025 Hadirkan Kotak, Tipe-X, hingga Guyon Waton
