Lappung – Ilmu Sains dianggap kaku banyak anak muda pilih menjauh dari MIPA.
Minat calon mahasiswa untuk memilih program studi di bidang sains dan teknologi, terutama Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA), semakin menurun dalam beberapa tahun terakhir.
Baca juga : Aliansi Mahasiswa Lampung: Indonesia Cemas, Darurat Pendidikan!
Banyak anak muda kini lebih tertarik pada jurusan yang dianggap lebih fleksibel dan aplikatif dibandingkan fisika, kimia, biologi, atau matematika yang dinilai kaku dan sulit.
Fenomena ini diungkapkan oleh Direktur Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek), Yudi Darma.
Menurutnya, penurunan peminat ini bahkan berimbas pada penutupan sejumlah program studi fisika di beberapa perguruan tinggi di Indonesia.
“Sains dan teknologi itu mungkin kesannya kaku, sehingga anak-anak sekarang jadi kurang tertarik.
“Beberapa dekan MIPA bahkan mengeluhkan bahwa peminat prodi fisika terus menurun,” ujar Yudi, dikutip pada Kamis, 20 Februari 2025.
Baca juga : BPS: Suku Batak dan Minangkabau Ungguli Pendidikan Sarjana di Indonesia
Menurut Yudi, minimnya minat terhadap bidang MIPA, terutama fisika, berisiko besar terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia.
Tanpa regenerasi ilmuwan di bidang ini, Indonesia akan semakin tertinggal dan hanya menjadi konsumen teknologi dari negara lain.
“Padahal, hampir semua teknologi modern berbasis fisika.
“Jika anak-anak kita enggan mempelajarinya, kita hanya akan menjadi pengguna, bukan produsen teknologi,” lanjutnya.
Ia juga mengingatkan bahwa rendahnya minat terhadap sains akan berdampak pada inovasi dan hilirisasi teknologi di dalam negeri.
Indonesia bisa kehilangan potensi besar dalam mengembangkan teknologi sendiri jika tren ini terus berlanjut.
Selain dianggap sulit dan kaku, rendahnya literasi sains di masyarakat juga menjadi faktor utama menurunnya minat generasi muda.
Ilmu Sains Dianggap Kaku Anak Muda Pilih Menjauh dari MIPA
Yudi menilai bahwa banyak masyarakat yang masih jauh dari pemahaman ilmu pengetahuan, yang akhirnya membuat mereka mudah percaya pada informasi keliru, seperti teori konspirasi dan hoaks.
Baca juga : Pendidikan di Pesisir Barat: Mayoritas Lulusan SD, Hanya 0,006 Persen Bergelar Doktor
“Banyak orang lebih percaya mitos ketimbang sains. Contohnya, masih ada yang meyakini teori bumi datar atau ikut-ikutan judi online tanpa memahami konsekuensinya secara rasional,” tambahnya.
Fenomena ini menjadi bukti bahwa sains belum menjadi bagian dari budaya masyarakat Indonesia.
Akibatnya, ketertarikan terhadap ilmu pengetahuan pun kian menurun, termasuk di kalangan calon mahasiswa.
Untuk mengatasi masalah ini, Kemendiktisaintek berencana melakukan pendekatan baru dalam pembelajaran sains, termasuk mengemasnya dengan lebih menarik melalui seni dan sejarah.
“Kami sedang mencari cara agar sains lebih membumi. Mungkin bisa melalui pertunjukan seni atau pengenalan sejarah yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari,” ungkap Yudi.
Ia berharap, dengan pendekatan yang lebih interaktif dan menarik, generasi muda kembali melihat bahwa sains bukan hanya sekadar teori di dalam kelas, tetapi juga ilmu yang sangat relevan dalam kehidupan nyata.
Baca juga : Inflasi Menggerus Kantong Warga Lampung, Pendidikan Jadi Beban Tambahan





Lappung Media Network