Lappung – Tren ironis Lebaran demi gengsi utang online jadi solusi.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memprediksi adanya lonjakan signifikan dalam penggunaan layanan pinjaman daring (pinjol) dan sistem paylater menjelang Hari Raya Idul Fitri 2025.
Baca juga : Catat Tanggalnya, Pesta Lebaran 4 Hari di Pantai Marina Lampung, Tiket Mulai 10 Ribu
Prediksi ini memunculkan ironi di tengah tradisi perayaan Lebaran yang seharusnya penuh kesederhanaan dan kebersamaan.
Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan OJK, Agusman, mengungkapkan bahwa pembiayaan melalui skema Buy Now Pay Later (BNPL) mengalami peningkatan sebesar 31 persen.
Sementara itu, pembiayaan dari industri pinjol juga tercatat naik hingga 24,16 persen.
Data ini mengindikasikan adanya pergeseran perilaku konsumtif masyarakat dalam menyambut Lebaran.
Fenomena ini disoroti oleh Prof Admi Syarif, PhD, seorang dosen dari Universitas Lampung (Unila).
Baca juga : Garuda, Citilink, AirAsia Tambah Penerbangan Jelang Lebaran di Lampung
Dalam sebuah catatan pribadinya, ia mengungkapkan keterkejutannya membaca prediksi OJK tersebut.
Menurutnya, Lebaran kini bagi sebagian masyarakat telah bertransformasi menjadi ajang pamer tahunan.
“Di Pulau Jawa, kabarnya penyewaan iPhone menjelang Idul Fitri sangat laris.
“Kredit barang menjadi hal lumrah, mulai dari ponsel, motor, mobil, hingga oleh-oleh, semuanya bisa dicicil lewat paylater di platform e-commerce.
“Bahkan, ada yang sampai isi kantongnya pun hasil pinjaman dari pinjol. Sungguh ironis,” tulis Prof Admi Syarif, Jumat, 4 April 2025.
Ia menilai, kemudahan akses pinjaman online tanpa diimbangi edukasi keuangan yang memadai menjadi salah satu penyebab utama kondisi ini.
Tak heran, banyak anak muda, bahkan mahasiswa, yang terjerat dalam lingkaran pinjol akibat gaya hidup instan, keinginan untuk tampil, dan tekanan sosial.
Baca juga : Rawan Penyelundupan Jelang Lebaran, Barantin Siaga di Bakauheni
Menyikapi kondisi ini, Prof Admi Syarif menekankan pentingnya penguatan literasi keuangan sejak dini, dimulai dari lingkungan keluarga dan pendidikan formal.
Edukasi mengenai pengelolaan keuangan pribadi, risiko utang, serta pentingnya menabung harus menjadi bagian dari kurikulum pendidikan.
Selain itu, ia juga menyerukan agar pemerintah bersama OJK memperketat pengawasan terhadap penyedia layanan pinjol dan paylater.
Transparansi dalam penyampaian risiko dan biaya tersembunyi kepada pengguna juga menjadi hal yang krusial.
Tren Ironis Lebaran: Demi Gengsi Utang Online Jadi Solusi
Lebih lanjut, Prof Admi Syarif menyoroti peran strategis pendidikan tinggi dan akademisi.
“Dunia kampus sejatinya tidak boleh diam. Pendidikan tinggi dan para akademisi memiliki tanggung jawab moral dan sosial untuk aktif membentuk pola pikir masyarakat agar melek finansial dan berpikir kritis terhadap gaya hidup konsumtif,” tegasnya.
Melalui kegiatan pengabdian masyarakat, riset sosial ekonomi, dan program literasi keuangan kampus, dosen dan mahasiswa diharapkan dapat menjadi agen perubahan yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Di akhir catatannya, Prof Admi Syarif mengingatkan masyarakat untuk lebih bijak dalam menyambut Lebaran dan tidak terjebak dalam euforia sesaat yang berujung pada masalah keuangan di kemudian hari.
Baca juga : Unpad, UI, Unila: BNI Hadirkan ATM Uang Rp20 Ribu di Kampus-kampus Jelang Lebaran





Lappung Media Network