Lappung – Way Belerang butuh investor atau dikelola pihak ketiga.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lampung Selatan (Lamsel) terus berupaya mengoptimalkan potensi Pendapatan Asli Daerah (PAD), terutama dari sektor pariwisata.
Baca juga : APBD Jadi Kendala, Bupati Lampung Selatan Janji Perbaiki Jalan Rusak Palas
Salah satu fokus utama adalah revitalisasi destinasi wisata Pemandian Way Belerang di Kalianda yang kondisinya saat ini memprihatinkan.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Lamsel, Kurnia Oktaviani, mengungkapkan bahwa pihaknya tengah mempertimbangkan 2 opsi utama untuk menghidupkan kembali Way Belerang.
Pertama, menggandeng investor, atau menyerahkan pengelolaannya kepada pihak ketiga.
Upaya peningkatan PAD dari sektor pariwisata ini menjadi perhatian khusus dalam pemerintahan Bupati Egi-Syaiful.
Apalagi, istri Bupati Lamsel, Radityo Egi Pratama, yakni Zita Anjani, saat ini menjabat sebagai Utusan Khusus Presiden Bidang Pariwisata, yang diharapkan dapat memberikan angin segar bagi perkembangan pariwisata di Lamsel.
Selain Pulau Sebesi, Pemandian Way Belerang merupakan salah satu destinasi wisata andalan Lamsel yang berada di bawah naungan Disparbud.
Kurnia Oktaviani menyayangkan kondisi Way Belerang yang saat ini kurang terawat.
Baca juga : Lampung Masih Bergantung APBN, IAP: Perlu Terobosan Investasi
“Kita patut bersyukur memiliki Way Belerang ini. Namun, sudah bertahun-tahun beberapa bangunan seperti penginapan, panggung, dan menara pandang mangkrak.
“Tidak banyak juga wisatawan yang menginap,” ujar Kurnia, dikutip pada Selasa, 15 April 2025.
Menurutnya, penurunan minat wisatawan terhadap Way Belerang sudah berlangsung cukup lama, bahkan puluhan tahun.
Berbagai upaya untuk menarik investor pun telah dilakukan oleh beberapa bupati sebelumnya, namun belum membuahkan hasil.
“Pada zaman Pak Riko pernah membawa investor ke sini, begitu juga pada zaman Pak Nanang pernah menurunkan El John, tapi mereka belum tertarik untuk mengelola Belerang ini,” terang dia.
Selain masalah infrastruktur yang terbengkalai, Kurnia juga menyoroti permasalahan sampah yang menumpuk di samping area pemandian.
Ia menjelaskan bahwa sampah tersebut sebagian besar adalah pakaian bekas yang dibuang oleh pengunjung.
“Ada mitos bahwa setelah berendam di Way Belerang, penyakit akan hilang jika membuang pakaian.
“Tahun lalu, area ini sempat bersih karena kita melakukan aksi bersih-bersih bersama P2WLS (Paguyuban Pelaku Wisata Lampung Selatan). Insya Allah tahun ini akan kita lakukan lagi,” katanya.
Baca juga : Peluang dan Tantangan Pariwisata Lampung di Era Kepemimpinan Baru
Untuk mengatasi masalah sampah pakaian ini, Kurnia menegaskan akan segera mengumpulkan para pedagang dan penjaga di sekitar Way Belerang untuk memberikan penegasan kepada pengunjung agar tidak membuang pakaian sembarangan.
Pihaknya juga pernah menyediakan tempat khusus untuk pembuangan pakaian.
Terkait harga tiket dan parkir, Kurnia menjelaskan bahwa tarifnya sudah ditentukan.
Ia kembali menekankan perlunya keterlibatan pihak ketiga dalam pengelolaan Way Belerang.
Konsep pengelolaan yang ideal bahkan sudah pernah dibuat oleh Brida (Badan Riset dan Inovasi Daerah).
“Konsepnya sudah pernah dibuat oleh Brida yang luar biasa, cuma kan berapa dana, investor yang berani untuk merenovasi ini.
“Karena konsep Way Belerang ini untuk pengobatan, alternatif kesehatan, bukan seperti kolam berenang biasa atau hot spring yang dibuat dari batu, bambu, dan kayu alami seperti di Jepang yang disebut Onsen.
“Menurut saya, konsep yang ada saat ini kurang tepat,” jelasnya.
Salah satu kendala utama dalam menarik investor adalah perkiraan biaya pengelolaan yang mencapai Rp240 hingga Rp270 juta per tahun.
Kurnia mengakui bahwa dengan kondisi Way Belerang saat ini, target PAD yang ditentukan kemungkinan tidak akan tercapai.
“Kalau yang menentukan target PAD itu bukan kita, ada rapat lagi. Dengan keadaan seperti ini, target PAD di angka 240 sampai 270 juta sepertinya tidak akan mencukupi.
“Padahal, beberapa tahun lalu, saat kondisi Way Belerang masih bagus, pernah direnovasi sekitar tahun 2015,” ungkapnya.
Way Belerang Butuh Investor Atau Dikelola Pihak Ketiga
Lebih lanjut, Kurnia mengungkapkan bahwa anggaran perawatan untuk dua lokasi wisata, Way Belerang dan Pulau Sebesi, hanya sebesar Rp20 juta.
Anggaran tersebut hanya cukup untuk perawatan ringan seperti pengecatan, perbaikan kamar mandi, dan pembersihan rutin.
Dengan kondisi tersebut, Kurnia Oktaviani berharap agar segera ada pihak ketiga atau investor yang bersedia mengelola dan merevitalisasi Way Belerang.
Langkah ini diharapkan dapat kembali menarik minat wisatawan dan berkontribusi signifikan terhadap peningkatan PAD Kabupaten Lampung Selatan.
Baca juga : Studi: Efek Kopi untuk Jantung Ternyata Tergantung Jam Minum





Lappung Media Network