Lappung – 3 provinsi strategis di Indonesia, yakni Lampung, Sumatera Selatan (Sumsel), dan Banten, tengah mengembangkan skema sinergi ekspor agroindustri berbasis data dan roadmap konkret.
Langkah ini digadang-gadang menjadi mesin pendorong pertumbuhan ekspor pertanian nasional hingga 15 persen pada 2026.
Baca juga : Ekonomi Kota Bandarlampung: Saatnya Melompat Lebih Jauh
Data kinerja ekonomi 2023–2025 menunjukkan kekuatan masing-masing provinsi yang saling melengkapi.
Lampung menegaskan posisinya sebagai lumbung pangan nasional dengan kontribusi sektor pertanian sebesar 27,9 persen terhadap PDRB dan pertumbuhan ekonomi yang meningkat dari 2,77 persen (2021) menjadi 4,28 persen pada 2022.
Produk unggulannya antara lain beras, singkong, kopi robusta, dan produk turunannya seperti etanol serta MOCAF.
Sementara itu, Sumatera Selatan menjadi penopang utama sektor kelapa sawit dan pupuk nasional.
Harga tandan buah segar (TBS) sawit di provinsi ini sempat mencapai Rp2.329/kg pada November 2023.
PT Pupuk Sriwijaya (Pusri) juga berperan penting sebagai penyedia pupuk NPK khusus komoditas strategis.
Banten, meski belum optimal dalam memanfaatkan potensi logistiknya, memiliki posisi geografis yang strategis melalui Pelabuhan Merak yang menghubungkan Pulau Jawa dan Sumatera.
Baca juga : Pertumbuhan Ekonomi Lampung 2025: Momentum yang Tidak Boleh Dilewatkan
Wilayah ini diusulkan sebagai titik akhir pengolahan produk hilir dan gerbang ekspor andalan.
Tantangan Data dan Infrastruktur
Sinergi antarprovinsi ini lahir dari tantangan bersama.
Di antaranya, fragmentasi data ekspor komoditas di tingkat provinsi, volatilitas harga TBS yang berdampak pada pendapatan petani, serta belum maksimalnya pemanfaatan infrastruktur logistik, termasuk tol Trans-Sumatera dan cold storage pelabuhan.
Misalnya, ruas tol Bakauheni-Terbanggi Besar di Lampung belum sepenuhnya dioptimalkan untuk mendukung distribusi hasil pertanian dari hulu ke hilir.
Sumsel dan Banten juga dinilai perlu mempercepat integrasi infrastruktur transportasi dan pergudangan untuk menekan biaya logistik.
Strategi Sinergi Berbasis Data
Dalam roadmap 2023–2025, sejumlah strategi utama diusulkan:
1. Integrasi Platform Data Real-Time
3 provinsi akan membangun sistem pemantauan digital untuk stok komoditas unggulan, harga acuan ekspor, dan peringatan dini terhadap fluktuasi harga.
Sistem ini berbasis data BPS dan Kementerian Pertanian.
2. Klaster Hilirisasi Terintegrasi
Dirancang pusat industri pengolahan sawit-singkong lintas wilayah, dengan Sumsel sebagai pemasok CPO dan pupuk, Lampung sebagai penghasil singkong dan teknologi bioetanol, serta Banten sebagai titik ekspor dan sentra pengolahan akhir.
3. Optimalisasi Tol Laut dan Logistik
Skema poros maritim Lampung-Sumsel-Banten (LSB) diusulkan melalui jalur Pelabuhan Panjang–Merak–Palembang, dilengkapi dengan backhaul logistik untuk menekan ongkos distribusi hingga 15 persen.
4. Sertifikasi Keberlanjutan Pasar Global
Program Green Label Trilogi akan diintegrasikan untuk menjangkau pasar Uni Eropa dan AS yang kini mewajibkan rantai pasok bebas deforestasi.
Sumsel akan mengusung program Proklim, sementara Banten mempromosikan lada putih dengan indikasi geografis “Banten Heritage”.
Kebijakan dan Implementasi 2025
Sebagai kerangka kelembagaan, dibentuk Dewan Bisnis LSB yang melibatkan pemda, Kadin, dan asosiasi petani.
Baca juga : Eksportir sebagai Pilar Ekonomi Lampung dan Peran Strategis Kepemimpinan Muda
Dewan ini akan mengatur harmonisasi insentif fiskal antarprovinsi, termasuk tax holiday untuk investasi hilirisasi.
Di bidang riset, Universitas Lampung akan fokus pada pengembangan varietas kopi tahan iklim, sedangkan PT Pusri Palembang menggarap pupuk organik dari limbah sawit.
Pendanaan riset ditargetkan dari alokasi minimal 2 persen APBD masing-masing provinsi.
Branding bersama bertajuk “Gerbang Rempah Nusantara” akan diluncurkan dalam bentuk pameran tahunan di Bandar Lampung pada Oktober 2025.
Produk unggulan kolaboratif seperti gula tebu organik, pupuk hijau, dan lada putih premium akan ditampilkan dan dipasarkan melalui platform ekspor digital Kementerian Perdagangan.
Antisipasi Risiko dan Inovasi
Sinergi ini juga memperhitungkan risiko strategis seperti konflik lahan, volatilitas pasar global, serta dampak perubahan iklim.
Solusinya antara lain melalui perjanjian spasial antarprovinsi, diversifikasi ekspor ke negara non-tradisional (seperti Turki dan Afrika Selatan), serta sistem peringatan dini gagal panen pesisir berbasis data kelautan Selat Sunda.
Penutup: Aksi Nyata Menuju Episentrum Agroindustri
“Data bukan sekadar angka, tapi napas keputusan strategis,” tulis Mahendra Utama, pelaku agroindustri sekaligus penggagas sinergi ini, Selasa, 15 Juli 2025.
Menurutnya, Lampung, Sumsel, dan Banten memiliki kekuatan masing-masing, dan jika dikolaborasikan, akan menjadi episentrum baru agroindustri nasional.
Langkah nyata yang diusulkan antara lain:
- Penandatanganan MoU trilogi provinsi pada kuartal ketiga 2025,
- Pembentukan dana abadi riset dari surplus APBD,
- Program Kartu Eksportir Pemula untuk UMKM berbasis pertanian.
“Saya ingin menyampaikan dukungan kepada para pemimpin daerah, Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal, Gubernur Sumsel Herman Deru, dan Gubernur Banten Andra Soni, bahwa ekspor adalah kerja kolektif.
“Ia hanya bermakna jika kapal kecil nelayan dan truk petani juga bisa sampai di pelabuhan,” pungkas Mahendra.
Baca juga : Selamatkan BUMD Lampung dari Kubangan Rugi





Lappung Media Network