Lappung – Provinsi Lampung semakin mengukuhkan posisinya sebagai salah satu lumbung pisang nasional setelah mencatatkan produksi fantastis sebesar 1,32 juta ton pada tahun 2023.
Angka ini menempatkan Lampung di urutan kedua produsen pisang terbesar di Indonesia.
Baca juga : Jejak Manis Tanggamus, Saat Cokelat Berpadu dengan Kopi dan Jahe Lampung
Namun, dibalik capaian tersebut, tersimpan tantangan besar untuk mengubah potensi menjadi kesejahteraan nyata melalui hilirisasi bernilai tambah.
Menurut Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, lonjakan produksi ini adalah momentum emas yang tidak boleh disia-siakan.
Ia menilai, Lampung harus segera beralih dari sekadar pemasok bahan mentah menjadi pusat industri olahan pisang yang kreatif dan modern.
“Ini bukan lagi sekadar angka statistik, ini adalah panggilan untuk berkarya lebih maju.
“Pertanyaannya, apakah kita hanya akan menanti panen, tanpa merajut masa depan? Jawabannya terletak pada hilirisasi yang strategis,” ujar Mahendra Utama, Selasa, 9 September 2025.
Inovasi dari Dapur UMKM Lokal
Potensi hilirisasi di Bumi Ruwa Jurai sesungguhnya telah bertunas, baik dari akar tradisi maupun inovasi kekinian.
Kuliner warisan seperti salimpok bungking, geguduh, dan bebay maghing telah lama menjadi bagian dari budaya masyarakat.
Kini, semangat itu bertemu dengan kreativitas modern.
Contoh nyata datang dari para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang mulai unjuk gigi.
Pie pisang modern yang digagas Yussy Asih berhasil merebut selera generasi muda, sementara upaya mengolah tepung pisang sebagai bahan dasar kue membuka peluang pasar baru yang lebih luas.
Kisah sukses lainnya datang dari UMKM “Njik Njik” di Bakauheni, Lampung Selatan.
Dengan inovasi produk keripik pisang dan sentuhan pendampingan dari BRI, usaha kecil ini berhasil menembus pasar Jakarta dan meraih omzet puluhan juta rupiah per bulan.
Baca juga : Menyambut Langkah Agresif Jawa Timur: Saatnya Lampung Bangkit Menjadi Tuan Rumah di Negeri Sendiri
“Kisah Njik Njik membuktikan bahwa inovasi, kolaborasi, dan pendampingan yang tepat bisa mengubah usaha kecil menjadi pemain yang diperhitungkan.
“Ini adalah kenyataan yang menginspirasi,” tambah Mahendra.
Perlunya Sinergi Lintas Sektor
Mahendra menekankan bahwa untuk memetik pucuk emas dari pisang Lampung, diperlukan sinergi yang kuat antara pemerintah, pelaku usaha, dan lembaga keuangan.
“Peran pemerintah daerah harus lebih dari sekadar mencatat angka produksi.
“Pelestarian kuliner tradisi, fasilitasi akses pasar digital, branding daerah, hingga sertifikasi mutu adalah langkah konkret yang sangat dibutuhkan,” jelasnya.
Di sisi lain, lembaga keuangan seperti BRI telah menunjukkan perannya.
SEVP Ultra Mikro BRI, Muhammad Candra Utama, dalam sebuah kesempatan menyatakan komitmennya untuk mendukung produk unggulan lokal.
“Kami berkomitmen untuk terus mendukung produk-produk unggulan ini agar penjualan dan jangkauan pasarnya semakin meluas,” katanya.
Langkah ini, menurut Mahendra, perlu diperluas oleh para pemangku kepentingan lainnya.
Peta Jalan Menuju Industri Unggulan
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa Kabupaten Lampung Selatan dan Pesawaran merupakan tulang punggung utama produksi pisang di Lampung, dengan total kontribusi mencapai hampir 8,6 juta kuintal per tahun.
Menurut Mahendra, potensi masif ini harus diimbangi dengan peta jalan hilirisasi yang jelas.
“Untuk pelaku usaha, ini adalah panggilan untuk diversifikasi produk.
“Bagi pemerintah, ini sinyal untuk membangun koridor hilirisasi yang terintegrasi, mulai dari sentra produksi hingga infrastruktur pengolahan,” tegasnya.
Ia menyimpulkan, saatnya pisang Lampung naik kelas.
Dengan hilirisasi kreatif dan strategi kolaboratif, Lampung tidak hanya akan dikenal sebagai penghasil pisang, tetapi juga sebagai poros ekonomi lokal yang modern dan berkelanjutan.
“Visi ini bukan utopia. Ketika warisan budaya seperti salimpok bungking mulai diakui, UMKM lokal menembus pasar ibu kota, dan inovasi terus lahir, kita sedang menyaksikan transformasi yang sesungguhnya.
“Pucuk emas dari pisang Lampung menanti untuk kita petik bersama,” tutupnya.
Baca juga : Fakta Baru: 5 Wilayah Ini Punya Penduduk Paling Sedikit di Lampung





Lappung Media Network