Lappung – Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar kembali melumpuhkan sebagian aktivitas ekonomi di Lampung sejak awal September 2025.
Baca juga : Toyota Bidik Lampung Jadi Basis Produksi Bioetanol, Siap Kucurkan Rp2,5 Triliun
Di tengah antrean panjang yang mengular di berbagai SPBU, Pemerhati Pembangunan Mahendra Utama menawarkan solusi inovatif, Bobibos, bahan bakar alternatif berkualitas tinggi dari limbah jerami padi.
Menurut Mahendra, krisis solar yang terjadi berulang kali ini menunjukkan adanya masalah struktural yang harus segera dicarikan jalan keluar.
“Ini bukan pertama kalinya, dan sepertinya bukan yang terakhir.
“Antrean panjang di SPBU, aktivitas ekonomi terganggu, dan mobilitas masyarakat terhambat. Ini harus jadi pelajaran,” ujar Mahendra Utama dalam keterangannya, Rabu, 12 November 2025.
Di balik krisis tersebut, lanjutnya, Lampung sebenarnya menyimpan potensi besar yang selama ini luput dari perhatian.
“Solusinya mungkin ada di sawah kita. Limbah jerami yang biasanya dibakar atau membusuk, ternyata bisa jadi solusi energi alternatif,” tegasnya.
Modal Kuat Lampung
Mahendra merujuk pada inovasi Bobibos (Bahan Bakar Original Buatan Indonesia, Bos) yang telah resmi diluncurkan.
Produk ini diklaim memiliki kualitas setara Pertamax dengan Research Octane Number (RON) 98 serta rendah emisi.
Bahan baku utamanya adalah jerami, limbah pertanian yang sangat melimpah di Lampung.
“Lampung punya modal kuat. Sektor pertanian dan perkebunan kita menyumbang hampir 30 persen dari PDRB.
“Artinya, bahan baku Bobibos, yaitu jerami, melimpah ruah dari Lampung Utara, Lampung Tengah, sampai Lampung Timur. Yang kurang hanya niat mengolahnya,” jelas Mahendra.
Ia menilai, inovasi ini sangat sejalan dengan visi Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, yang kerap menggaungkan isu energi hijau dan berkelanjutan.
Baca juga : Lampung Bisa Jadi Raja Bioetanol Nasional, Tapi Ada PR Besar
“Bobibos ini pas banget dengan visi Pak Gubernur. Tinggal bagaimana mewujudkannya di lapangan,” tambahnya.
3 Langkah
Agar inovasi ini tidak sekadar menjadi wacana, Mahendra Utama mengusulkan 3 langkah konkret yang bisa segera dipertimbangkan oleh Pemerintah Provinsi Lampung.
Pertama, segera memulai pilot project atau proyek percontohan di salah satu kabupaten yang menjadi lumbung padi.
“Coba dulu di satu kabupaten. Uji teknologinya, hitung keekonomiannya, baru kemudian replikasi ke daerah lain kalau berhasil,” paparnya.
Kedua, memanfaatkan momentum penunjukan Lampung oleh pemerintah pusat sebagai kawasan pengembangan bioetanol.
Menurutnya, Bobibos dari jerami bisa diintegrasikan ke dalam *roadmap* tersebut.
“Toyota dan Pertamina NRE sudah menunjukkan minat di sektor bioetanol. Ini peluang kolaborasi yang sayang kalau dilewatkan,” tegas Mahendra.
Ketiga, memastikan keterlibatan petani secara langsung.
Mahendra mengingatkan agar inovasi ini tidak hanya menguntungkan investor besar, tetapi harus menyejahterakan petani.
“Koperasi tani dan BUMDes bisa jadi kunci agar petani tidak hanya jual padi, tapi juga jeraminya. Ini pendapatan tambahan yang riil, bukan janji-janji kosong,” jelasnya.
Mahendra menutup dengan pandangan bahwa krisis BBM ini harus menjadi titik balik bagi Lampung untuk beralih dari korban kelangkaan menjadi pelopor kemandirian energi.
“Bayangkan kalau jerami yang selama ini dibakar percuma bisa jadi BBM berkualitas tinggi.
“Petani dapat untung tambahan, lingkungan lebih sehat, dan kita tidak perlu lagi antre berjam-jam di SPBU. Ini soal kemandirian energi dan pemberdayaan ekonomi lokal,” pungkasnya.
Baca juga : Pertamina Belah 688 Km Daratan Lampung-Sumsel Demi Cadangan Migas





Lappung Media Network