Lappung – Kabupaten Jember di Jawa Timur telah lama dikenal dunia dengan julukan Kota Tembakau.
Namun, dinamika ekonomi global menuntut adaptasi.
Baca juga : Bandara Jember Bangkit Dongkrak Ekonomi
Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, menilai Jember telah sukses melakukan transformasi agrikultur yang brilian, bergerak dari kejayaan tembakau era kolonial menuju dominasi pasar edamame global.
Menurut Mahendra, sejarah panjang Jember yang dulunya bermula dari istilah moeras atau wilayah becek, kini telah berevolusi menjadi salah satu lumbung pangan strategis dan penopang devisa negara yang vital.
“Jember itu unik. Dengan wilayah seluas lebih dari 3.000 kilometer persegi yang mayoritas dataran rendah, daerah ini menjadi saksi bisu evolusi komoditas pertanian.
“Narasinya terentang panjang, dari era kolonial hingga menjadi pemain kunci di pasar global hari ini,” ujar Mahendra Utama, Kamis, 20 November 2025.
Jejak Emas Na-Oogst
Mahendra menjelaskan, fondasi ekonomi Jember tidak bisa dilepaskan dari sejarah tembakau.
Momentum ini bermula pada 21 Oktober 1859, saat tiga pengusaha Belanda, George Birnie, Mathiesen, dan Van Gennep, mendirikan NV Landbouw Maatschappij Oud Djember (LMOD).
“Di bawah naungan LMOD itulah lahir Tembakau Na-Oogst, sebuah hasil persilangan cerdas antara varietas Amerika Latin dan lokal.
“Kualitasnya fermentasinya luar biasa, menjadi primadona bahan baku cerutu di Eropa dan Amerika,” papar Mahendra.
Ia menambahkan, komoditas inilah yang mengubah wajah Jember dari distrik terpencil menjadi pusat Keresidenan Besuki yang maju secara infrastruktur.
Hingga kini, warisan tersebut masih berdenyut dengan adanya 18 eksportir tembakau yang masih aktif beroperasi.
Jeruk Siam dan Primadona Edamame
Namun, Mahendra menekankan bahwa ketangguhan ekonomi Jember terletak pada kemampuannya untuk tidak bergantung pada satu komoditas saja.
Ia menyoroti munculnya komoditas hortikultura lain seperti Jeruk Siam yang tumbuh subur di Umbulsari, Semboro, dan Jombang dengan produksi yang pernah menembus angka 1,1 juta kuintal.
Baca juga : Tembakau Jember: Napas Ekonomi Nusantara
Meski demikian, sorotan utama Mahendra tertuju pada bintang baru ekspor Jember, yakni Edamame.
“Edamame adalah bukti adaptasi Jember di era modern.
“Kacang kedelai muda ini sukses menembus pasar internasional yang sangat ketat standarnya, mulai dari Jepang, Amerika Serikat, hingga Australia,” jelas Mahendra.
Berdasarkan data yang dihimpun, pada tahun 2019 volume ekspor edamame mencapai 6.790 ton.
Mahendra menyebut peran vital industri lokal seperti PT Mitratani Dua Tujuh (MDT) yang menyumbang lebih dari 60 persen total volume tersebut.
“Permintaan dari Jepang saja mencapai 75.000 ton per tahun. Dengan teknologi Individual Quick Freezing (IQF), Jember mampu menjaga kualitas terbaik untuk pasar dunia. Ini prestasi luar biasa,” tegasnya.
Menutup penjelasannya, Mahendra Utama menegaskan bahwa perjalanan dari tembakau ke edamame adalah bukti DNA ketangguhan masyarakat Jember.
“Ini adalah kisah tentang transformasi abadi. Semangat yang dulu digunakan untuk menaklukkan pasar cerutu dunia, kini diteruskan untuk merajai pasar pangan sehat global.
“Jember membuktikan diri sebagai pusat perkebunan yang terus relevan di panggung dunia,” pungkas Mahendra.
Baca juga : Mengurai Dinamika Ekonomi Jember: Antara Krisis dan Peluang





Lappung Media Network