Lappung – Puisi “Doa untuk Tanah Rencong dan Serambi Melayu” karya Mahendra Utama merupakan sebuah refleksi emosional yang mendalam atas musibah bencana alam (banjir dan longsor) yang melanda wilayah Sumatera, khususnya Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Baca juga : Tinta Emas Pesawaran untuk Negeri, Karya: Mahendra Utama
Bait-bait awal melukiskan suasana mencekam ketika alam yang biasanya bersahabat di sepanjang Bukit Barisan berubah menjadi kekuatan destruktif yang menghancurkan hunian dan lahan pencaharian.
Penulis berhasil menangkap nuansa duka, trauma, dan ketidakberdayaan yang dirasakan oleh para korban di tengah kepungan lumpur dan puing-puing.
Namun, di balik narasi kesedihan tersebut, puisi ini juga menyuarakan optimisme dan penghargaan yang tinggi.
Penulis memberikan apresiasi khusus kepada sinergitas berbagai pihak, mulai dari relawan, TNI, Polri, hingga masyarakat yang bahu-membahu menolong sesama.
Secara spesifik, penulis juga memuji kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto yang dinilai sigap dan tegas dalam menginstruksikan penanganan bencana.
Puisi ini kemudian ditutup dengan doa tulus kepada Tuhan agar musibah ini menjadi ujian terakhir, serta harapan agar alam kembali pulih dan semangat gotong royong terus memperkokoh martabat bangsa Indonesia.
Baca juga : Sebatang Asa untuk Tuan Tembakau, Karya: Mahendra Utama
Doa untuk Tanah Rencong dan Serambi Melayu
Karya: Mahendra Utama
Kabut kelam menyelubungi Bukit Barisan
Air yang tadinya sahabat, berubah menjadi amukan
Menerpa rumah, jembatan, dan ladang harapan
Meninggalkan duka di Sumatera yang bersedih.
Di tengah rintik dan rintihan yang berdentum
Bergurat luka, pilu, dan nestapa
Namun, dari puing dan lumpur yang menyergap
Bangkit satu suara: “Kita harus bangkit!”
Terima kasih pada kau, para pahlawan tanpa jubah
Yang mengarungi bahaya, mengulurkan tangan
Relawan, TNI, Polri, dan warga yang bersatu
Kau adalah nadi yang menghidupkan kembali asa.
Dan untuk Pemimpin, Prabowo Subianto,
Sigap langkahmu menjawab panggilan Ibu Pertiwi
Perintahmu mengalirkan bantuan dan kekuatan
Membuktikan jiwa kesatria yang berdiri di garda terdepan.
Semoga ini jadi ujian terakhir yang ditakdirkan
Agar kita lebih terjaga, lebih siap, dan bersatu
Kami memohon pada Yang Maha Kuasa
Lindungi Nusantara, jangan ulang lagi nestapa ini.
Semoga tanah yang terluka segera pulih kembali
Menghijau, membangun, dan kembali bersemi
Dengan semangat gotong royong yang tak terkikis zaman
Kita wujudkan Indonesia yang tangguh dan bermartabat.
***
Puisi ini penulis persembahkan karena turut berduka cita atas musibah banjir yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Baca juga : Aku Terus Menorehkan Kata





Lappung Media Network