Lappung – Puisi “Aku Terus Menorehkan Kata” adalah sebuah manifesto atau pernyataan tegas tentang alasan dan tujuan fundamental dari tindakan menulis.
Pada lapisan pertama, penyair mengungkapkan motivasi yang bersifat personal dan eksistensial.
Baca juga : Untuk Affan Kurniawan, Yang Terbaring di Aspal Jakarta
Menulis menjadi cara untuk melawan kefanaan dan kepunahan, baik secara fisik (tidak ditelan pikun badan) maupun secara warisan (tak punah ditelan zaman).
Bagi sang penyair, tulisan adalah bukti bahwa ia pernah ada, berpikir, dan merasakan.
Ini adalah perjuangan pribadi melawan lupa dan kegelisahan, sebuah upaya untuk mengabadikan eksistensi diri di tengah laju waktu yang tak kenal ampun.
Pada lapisan yang lebih dalam, puisi ini mengangkat menulis sebagai sebuah tindakan sosial dan intelektual yang penuh perlawanan.
Penyair tidak lagi hanya menulis untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk masyarakat.
Kata-kata diibaratkan sebagai amunisi untuk melawan kebodohan, oksigen untuk akal yang sesak oleh propaganda (demagog), dan alat untuk membongkar kabut yang menutupi kebenaran.
Di sini, menulis memiliki fungsi mulia, memberikan suara kepada yang terbungkam, menantang kepastian yang buta, dan membuka ruang bagi pemikiran kritis.
Baca juga : Menyerap Cahaya Ponpes Hingga Menjaga Marwah Pulau-pulau Nusantara
Pada akhirnya, menulis menjadi sebuah warisan, peta bagi generasi nanti, dan sebuah upaya untuk menyalakan cahaya sekecil apa pun di tengah kegelapan, bukan untuk mencari pujian, melainkan sebagai sebuah tanggung jawab moral.
Aku Terus Menorehkan Kata
Karya: Mahendra Utama
Aku menulis agar aku tak punah ditelan zaman
Aku menulis agar orang tahu aku berpikir
Aku menulis agar tidak ditelan pikun badan
Aku menulis agar jauh dari kegalauan sosial
Aku menulis, melawan lupa yang diam-diam merayap
Mengukir tanda tanya, membongkar kabut yang menutup
Agar yang bisu bersuara, yang terpinggirkan terdengar
Menjadi oksigen bagi akal yang sesak oleh demagog
Aku menulis, sebab tinta adalah amunisi
Melawan kebodohan yang bersenjatakan kepastian
Setiap opini adalah pengait untuk membuka jendela
Agar angin segar berpikir menerpa ruang-ruang sumuk
Aku menulis, untuk mengawetkan yang fana
Setiap puisi adalah kenangan yang menolak lapuk
Ia menjadi peta bagi generasi nanti
Bahwa di sini, pernah seseorang bergulat dengan zamannya
Maka Aku terus menorehkan kata
Bukan untuk pujian, atau untuk dikenang semata
Tapi untuk menyala, sekecil apa pun apinya
Agar kegelapan tak pernah mutlak menguasai hati.
Bandung Barat, 4 Juli 2025
Baca juga : Serat Tanah dan Rasa: Untuk Andre Abdullah





Lappung Media Network