Lappung – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akhirnya memberikan lampu hijau atas aksi korporasi strategis antara 2 bank daerah.
PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk (BJTM) kini resmi menyandang status sebagai Pemegang Saham Pengendali (PSP) di PT Bank Pembangunan Daerah Lampung (Bank Lampung).
Baca juga : Selain Jabar dan Jatim, Lampung Juga Catat Banyak Lokasi PSK
Keputusan itu sekaligus menempatkan Pemerintah Provinsi Jawa Timur sebagai pemegang saham pengendali terakhir (Ultimate Shareholder) dari Bank Lampung.
Corporate Secretary Bank Jatim, Fenty Rischana K, dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI) kemarin, memastikan bahwa seluruh proses administrasi pengawasan di OJK telah rampung.
“Kepemilikan saham Bank Jatim di Bank Lampung kini tercatat sebesar 5,42 persen. Transaksi ini sudah dicatat secara resmi oleh regulator,” ungkap Fenty, dikutip pada Rabu, 24 Desember 2025.
Rincian Transaksi
Pengambilalihan kendali ini tidak lepas dari kucuran dana segar yang disuntikkan Bank Jatim. Nilai investasinya mencapai Rp100 miliar.
Secara teknis, dana tersebut dibagi ke dalam 2 pos pembukuan.
Sebanyak Rp25,38 miliar dikonversi menjadi setoran modal, setara dengan 2,53 juta lembar saham.
Baca juga : Bank Lampung Gandeng Bank Jatim, Tingkatkan Daya Saing dan Kinerja
Sementara itu, porsi terbesar yakni Rp74,63 miliar, dicatatkan sebagai agio saham.
Langkah tersebut dinilai strategis untuk memperkuat struktur permodalan Bank Lampung sekaligus memperluas pasar Bank Jatim di wilayah Sumatera.
Sekadar informasi, kemampuan Bank Jatim melakukan ekspansi anorganik ini didukung oleh otot finansial yang kuat.
Hingga kuartal III-2025, emiten berkode BJTM ini mencatatkan performa keuangan yang impresif.
Laba bersih perseroan sukses tumbuh dua digit, melesat 23,51 persen secara tahunan (year-on-year) menjadi Rp1,148 triliun.
Angka ini jauh melampaui capaian periode yang sama tahun lalu yang berada di level Rp930,06 miliar.
Pertumbuhan laba tersebut didorong oleh pendapatan bunga yang naik tajam 28,36 persen menjadi Rp7,42 triliun, serta pendapatan bunga bersih yang menebal menjadi Rp5,1 triliun.
Dari sisi penyaluran dana, fungsi intermediasi Bank Jatim berjalan kencang.
Total kredit yang disalurkan tumbuh 29,02 persen menyentuh angka Rp80,25 triliun.
Kendati agresif, manajemen Bank Jatim tampak tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian.
Hal itu terlihat dari pencadangan atau beban kerugian penurunan nilai aset (CKPN) yang ditingkatkan hingga 80,64 persen menjadi Rp1,245 triliun, sebagai bantalan untuk memitigasi risiko kredit di masa depan.
Baca juga : Menyambut Langkah Agresif Jawa Timur: Saatnya Lampung Bangkit Menjadi Tuan Rumah di Negeri Sendiri





Lappung Media Network