Lappung – Puisi ini merupakan sebuah kontemplasi spiritual dan refleksi perjalanan hidup sepanjang tahun 2025 yang dilalui penulis di 4 kota berbeda, Bandarlampung, Medan, Jakarta, dan Jember.
Setiap kota digambarkan bukan sekadar lokasi fisik, melainkan sebagai ruang kelas yang memberikan pelajaran hidup yang unik.
Baca juga : Di Bawah Langit Merah Kemakmuran, Karya: Mahendra Utama
Bandarlampung mengajarkan keikhlasan pasang-surut kehidupan, Medan memberikan keberanian dan kehangatan kekeluargaan, Jakarta mengajarkan ketangguhan dan syukur di tengah hiruk-pikuk, sementara Jember menawarkan ketenangan dan keyakinan akan rezeki.
Penulis merangkum pengalaman dari Lautan, Kebun, Batu, dan Sawah ini sebagai warna-warni yang membentuk kedewasaan emosionalnya.
Lebih dalam lagi, puisi ini menekankan tema ketauhidan dan rasa syukur yang mendalam.
Tahun 2025 diibaratkan sebagai sebuah madrasah (sekolah) kehidupan di mana kesehatan adalah bahtera dan Islam adalah penunjuk arahnya.
Meskipun penulis berpindah-pindah tempat secara fisik, ia menyadari satu hal yang konstan dan tidak pernah berubah, keberadaan Tuhan (Ya Rahman).
Puisi ini ditutup dengan penyerahan diri yang total, mengakui bahwa sejauh apa pun kaki melangkah, Tuhan adalah satu-satunya tempat untuk bersimpuh dan tujuan akhir dari segala kepulangan.
Baca juga : Doa untuk Tanah Rencong dan Serambi Melayu, Karya: Mahendra Utama
SELAYAR RASA DI EMPAT PERHENTIAN
Karya: Mahendra Utama
2025, lembaran yang hampir terlipat rapi,
di sudut-sudutnya melekat debu dan doa,
tercampur wangi kopi dan asap doa dari Bandar Lampung,
di mana riak Teluknya mengajarku arti pasang-surut keikhlasan.
Medan, kau simpan cerita dalam dentang malam,
di sela-sela tajam durian dan manisnya sanak,
suara azan dari Masjid Raya menggumpal menjadi keberanian,
menyelinap di keramaian, mengingatkan: “Di manapun, Kembalilah.”
Lalu Jakarta, pengaduk rasa yang garang dan gemuruh,
di atas jembatan penyeberangan, di bawah kereta yang berlarut,
di sini syukur berbentuk napas panjang di tengah macet,
dan senyum kecil saat hujan membersihkan langit yang kelam.
Dan Jember… ah, Jember yang diam-diam memeluk,
dengan hamparan tembakaunya yang merunduk-runduk,
di sini waktu berjalan seperti aliran kali yang jernih,
mengingatkanku bahwa rezeki terhampar di setiap keteduhan.
2025, kau adalah madrasah dengan empat ruang kelas:
Lautan, Kebun, Batu, dan Sawah.
Di tiap pelabuhan rasa ini, iman berlabuh,
kesehatan menjadi kapal, dan Islam adalah jalur bintangnya.
Kini, sebelum fajar 2026 menyingsing,
kukumpulkan semua warna dari empat perhentian ini:
biru Lampung, cokelat Medan, kelam Jakarta, hijau Jember,
menjadi satu pelangi syukur di langit dada.
Terima kasih, Ya Rahman, untuk detik-detik yang Kaurentang,
untuk hari-hari yang dirajut dari benang ujian dan anugerah.
Di tengah pindah-pindah kota, satu yang tak pernah bergeser:
Engkau, tempat semua rasa bersimpuh, dan pulang.
Baca juga : PTPN I Buktikan Komitmen GCG di Tengah Badai Kasus Korupsi Aset Regional 1





Lappung Media Network