Lappung – Kinerja ekspor edamame dan okra PT Mitratani Dua Tujuh (Mitratani) sepanjang periode 2023 hingga 2025 dilaporkan mengalami tren penurunan.
Padahal, anak usaha PTPN 1 ini praktis bermain tanpa pesaing (monopoli) di pasar Indonesia pasca berhentinya operasional PT GMIT di Jember.
Baca juga : Hilirisasi Edamame Indonesia: Dari Lahan ke Pasar Global
Mantan Komisaris PT Mitratani Dua Tujuh periode Juli 2023–Desember 2025, Mahendra Utama, menyoroti fenomena ini sebagai sebuah ironi.
Menurutnya, posisi sebagai pemain tunggal seharusnya memperkuat daya tawar perusahaan, namun fakta di lapangan menunjukkan sebaliknya.
Mahendra menilai, salah satu faktor krusial yang menghambat laju perusahaan adalah terlalu seringnya pergantian pucuk pimpinan dalam waktu singkat.
“Efektivitas organisasi itu sangat bergantung pada kestabilan nakhodanya. Jika dalam 2 tahun pimpinan diganti sampai 3 kali, organisasi kehilangan arah.
“Setiap pemimpin baru pasti butuh penyesuaian, tapi waktunya habis untuk urusan administratif internal, bukan membenahi strategi ekspor,” ujar Mahendra Utama dalam keterangannya, Rabu, 7 Januari 2026.
Siklus Pergantian yang Terlalu Cepat
Data menunjukkan dinamika kepemimpinan yang sangat cair di tubuh Mitratani.
Tercatat, perusahaan ini dipimpin oleh Dwi Aprilla Sandi pada Juli 2023, kemudian digantikan oleh Tumbas Ginting pada Oktober 2023.
Estafet kembali berlanjut ke Christian Hadi pada Juli 2025, sebelum akhirnya digantikan oleh Yogi pada Desember 2025.
Menurut Mahendra, yang dikenal sebagai pemerhati pembangunan, pergantian kilat ini membuat strategi jangka panjang sulit dieksekusi.
“Energi manajemen habis tersedot untuk adaptasi visi pemimpin baru. Akibatnya, perbaikan mendasar seperti rantai pasok dan kualitas produk justru tertunda,” tegasnya.
Tantangan Standar Jepang dan Regenerasi
Selain faktor manajerial, Mahendra juga mengingatkan adanya pekerjaan rumah besar terkait standar kualitas.
Pasar Jepang, sebagai tujuan utama ekspor edamame, dikenal memiliki toleransi nol terhadap residu pestisida.
Mahendra menyebut bahwa tanpa pembaruan teknologi budidaya di tingkat petani (on farm), risiko penolakan produk di pelabuhan tujuan akan semakin besar.
Baca juga : Edamame dan Okra: Komoditas yang Diam-diam Meraup Untung dari Pasar Ekspor
Hal ini diperparah dengan masalah regenerasi SDM di lapangan.
“Banyak manajer kebun Mitratani yang sudah memasuki usia senja setelah 3 dekade perusahaan berdiri.
“Di sisi lain, generasi muda kurang tertarik terjun ke ladang jika insentif dan kepastian karir tidak menarik.
“Tanpa regenerasi manajer lapangan, sulit mengharapkan hasil panen yang memuaskan standar internasional,” paparnya.
Vietnam dan Thailand
Mahendra juga memberikan peringatan keras (warning) terkait kompetisi global.
Meskipun Mitratani menjadi pemain tunggal di Indonesia, kompetitor dari negara tetangga seperti Vietnam dan Thailand terus berinovasi dengan pergerakan yang cepat.
Ia menilai, status monopoli di dalam negeri bisa menjadi jebakan zona nyaman yang mematikan inovasi dan efisiensi.
“Tanpa kompetitor lokal, tekanan untuk efisien itu melemah. Kita terlena rutinitas, sementara negara tetangga lari kencang mengambil pangsa pasar kita,” imbuh Mahendra.
Kontinuitas Strategi
Sebagai solusi, Mahendra menyarankan agar pemegang saham, khususnya PTPN 1, lebih mengutamakan kontinuitas strategi ketimbang sekadar mengganti figur.
Investasi pada smart farming, sistem irigasi modern, dan pelatihan petani mitra dinilai jauh lebih mendesak untuk membangun fondasi jangka panjang.
“Perubahan itu perlu, tapi kestabilan punya nilai mahal. Beri kesempatan pemimpin menjalankan rencananya sampai tuntas.
“Tanpa itu, gelar pemain tunggal hanya akan jadi catatan sejarah, sementara pasar kita perlahan diambil negara lain,” pungkas Mahendra.
Baca juga : Edamame dan Okra: Primadona Jepang





Lappung Media Network