Lappung – Di tengah dominasi sushi dan ramen, 2 komoditas pertanian sederhana, edamame dan okra, diam-diam menjadi primadona di pasar Jepang.
Tingginya permintaan yang tak sebanding dengan produksi domestik membuka peluang emas bagi Indonesia untuk menjadi pemasok kunci, menggerakkan roda ekonomi bagi para petani lokal.
Baca juga : Ekspor Edamame Indonesia di Tengah Gejolak Global, Peluang dan Strategi
Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, menyatakan bahwa popularitas edamame dan okra di Jepang didorong oleh tren gaya hidup sehat yang terus menguat.
Kedua sayuran ini dianggap sebagai makanan super karena kandungan gizinya yang luar biasa.
“Ini bukan sekadar camilan, tetapi bagian dari gaya hidup.
“Edamame, atau kedelai muda, kaya akan protein, serat, dan isoflavon yang baik untuk kesehatan jantung.
“Sementara itu, okra dikenal ampuh mengontrol gula darah dan menyehatkan pencernaan,” jelas Mahendra, Sabtu, 20 September 2025
Menurut Mahendra, permintaan pasar Jepang untuk edamame mencapai 75.000 ton per tahun, angka yang sulit dipenuhi oleh produsen lokal mereka.
Celah inilah yang dimanfaatkan secara optimal oleh eksportir Indonesia.
Salah satu pemain utamanya adalah PT Mitratani Dua Tujuh, yang konsisten mengekspor hingga 80 persen dari total produksinya ke Jepang.
Baca juga : Edamame Unggul Kandungan Protein, Mitratani Incar Program Sehat Prabowo
Data menunjukkan, pada tahun 2015 saja, volume ekspor perusahaan ini mencapai 4.452 ton.
Hal serupa terjadi pada komoditas okra. Sentra produksi seperti di Blora, Jawa Tengah, telah menjalin kemitraan strategis dengan perusahaan pengolahan seperti PT Kelola Agro Makmur.
Perusahaan ini mampu mengolah hingga 20 ton okra per hari untuk memenuhi permintaan pasar ekspor, terutama Jepang dan Korea.
Mahendra memproyeksikan prospek budidaya edamame dan okra akan tetap sangat menjanjikan untuk dua dekade ke depan.
Hal ini sejalan dengan meningkatnya kesadaran global akan pentingnya konsumsi makanan sehat.
“Indonesia punya keunggulan iklim dan lahan yang sangat ideal.
“Tantangannya kini adalah bagaimana kita melakukan inovasi dan hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah,” ujarnya.
Beberapa inovasi yang berpotensi dikembangkan antara lain diversifikasi pasar ke negara lain, pengembangan produk turunan seperti jus edamame, serta penerapan teknologi pembekuan (freezing) modern untuk menjaga kualitas produk ekspor.
“Dukungan pemerintah melalui program ketahanan pangan dan penguatan kemitraan dengan petani menjadi kunci.
“Edamame dan okra bukan lagi sekadar komoditas, melainkan simbol ketangguhan ekonomi lokal di panggung global,” pungkasnya.
Baca juga : Pertama di Sumatera Utara, Panen Edamame Tembus Pendapatan Rp300 Juta per Hektare





Lappung Media Network