Lappung – Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, menilai langkah hilirisasi pada komoditas edamame di Indonesia telah berjalan pada jalur yang tepat dan strategis.
Transformasi dari sekadar ekspor bahan mentah menjadi produk olahan bernilai tambah tinggi dinilai mampu menjawab standar ketat pasar internasional.
Baca juga : Edamame dan Okra: Komoditas yang Diam-diam Meraup Untung dari Pasar Ekspor
Mahendra menyebut, edamame yang selama ini dikenal sebagai camilan sehat, memiliki potensi ekonomi raksasa jika dikelola dengan teknologi pascapanen yang mumpuni.
“Hilirisasi edamame ini bukan sekadar bicara soal kirim kacang kedelai muda mentah ke luar negeri.
“Ada proses rumit dan strategis untuk menjamin kualitas dan keamanan pangan (food safety),” ujar Mahendra Utama, Rabu, 19 November 2025.
Menurut Mahendra, kunci keberhasilan komoditas ini menembus pasar global terletak pada penguasaan teknologi pengolahan.
Ia mencontohkan penggunaan teknologi Individual Quick Freezing (IQF).
“Begitu dipanen, edamame langsung dibersihkan, direbus dengan teknik khusus untuk menjaga warna, lalu dibekukan lewat IQF.
“Teknologi itu membekukan kacang secara individual, sehingga tekstur dan rasa tetap terjaga sempurna sampai ke tangan konsumen di luar negeri,” jelasnya.
Diversifikasi Produk
Lebih lanjut, Mahendra menyoroti bahwa hilirisasi juga memicu lahirnya inovasi produk turunan.
Tidak hanya menjual edamame beku utuh, industri kini mulai merambah ke produk varian siap saji.
“Sekarang kita lihat ada diversifikasi. Muncul produk minuman sari edamame atau jusme.
“Lalu ada edamame beku siap masak dengan varian rasa seperti salted dan original dengan merek ritel seperti Hygreen. Ini bukti hilirisasi menciptakan pasar baru,” tegas Mahendra.
Tembus Pasar Premium
Mahendra mengungkapkan bahwa implementasi hilirisasi ini bukan sekadar wacana di atas kertas.
Baca juga : Edamame dan Okra: Primadona Jepang
Ia mengapresiasi kinerja perusahaan agroindustri nasional, seperti PT Mitratani Dua Tujuh (MDT), yang konsisten menjadi pemain utama ekspor.
Data menunjukkan, berkat komitmen kualitas, edamame olahan Indonesia telah menembus lebih dari 13 negara.
Destinasi ekspor mencakup pasar premium yang dikenal memiliki standar karantina ketat, seperti Jepang, Amerika Serikat, Australia, Eropa, hingga Timur Tengah.
“Pada tahun 2019 saja, volume ekspor tercatat mencapai 6.790,7 ton.
“PT Mitratani Dua Tujuh menyumbang dominasi sebesar 66,6 persen dari angka tersebut. Ini angka yang signifikan bagi devisa negara,” papar Mahendra.
Menutup penjelasannya, Mahendra menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, swasta, dan petani.
Dukungan Kementerian Perindustrian dalam mendorong peningkatan nilai tambah dinilai sangat krusial agar edamame tidak hanya diekspor segar, tetapi terus berkembang menjadi berbagai produk olahan.
“Hilirisasi edamame adalah contoh nyata bagaimana pertanian kita bisa naik kelas.
“Dari lahan petani lokal, diolah dengan teknologi, dan berakhir di meja makan masyarakat global,” pungkasnya.
Baca juga : Ekspor Edamame Indonesia di Tengah Gejolak Global, Peluang dan Strategi





Lappung Media Network