Lappung – Fokus pemerintahan Presiden Prabowo Subianto pada swasembada pangan, kemandirian energi, dan kekuatan pertahanan dinilai bukan langkah populis semata.
Eksponen 98, Mahendra Utama, menyebut strategi ini sebagai respon mutlak menghadapi ancaman geopolitik abad ke-21 yang menuntut kemandirian penuh sebuah bangsa.
Baca juga : Diplomasi “Seribu Kawan”: Menakar Langkah Catur Global Presiden Prabowo
Mahendra menilai, di tengah dinamika global yang tak menentu, ketiga sektor tersebut menjadi pondasi utama agar Indonesia tidak mudah didikte oleh kekuatan asing.
Langkah Prabowo dianggap sebagai upaya mengembalikan orientasi pembangunan pada hal yang paling mendasar namun krusial.
“Ini bukan lagi soal wacana, tapi syarat mutlak. Negara tidak bisa diklaim merdeka sepenuhnya jika urusan perut rakyatnya masih bergantung pada impor.
“Prabowo paham betul, ketergantungan pada rantai pasok luar negeri, seperti kasus gandum saat perang Ukraina, adalah celah yang membahayakan kedaulatan,” tegas Mahendra dalam keterangannya, Sabtu, 10 Januari 2026.
Geopolitik dan Hilirisasi
Pemerhati Pembangunan ini menjabarkan bahwa visi Prabowo memiliki landasan logika yang kuat.
Di sektor energi, ambisi hilirisasi sawit menjadi biodiesel dan pemanfaatan geotermal dinilai sebagai jalan keluar dari jebakan impor bahan bakar.
Menurut Mahendra, tanpa energi murah dan berkelanjutan yang dikelola mandiri, mustahil Indonesia dapat bertransformasi menjadi negara industri besar.
Kemandirian energi adalah kunci agar roda ekonomi tidak rapuh oleh fluktuasi harga pasar dunia.
“Prabowo menarik garis tegas, sumber daya alam kita tidak boleh sekadar dijual mentah. Hilirisasi adalah cara kita berdaulat atas kekayaan sendiri,” imbuhnya.
Makan Bergizi Gratis
Mahendra juga menyoroti realisasi kebijakan di lapangan yang mulai dirasakan publik.
Baca juga : Orkestrasi Gubernur Lampung Jaga Stabilisasi Harga Cabai
Stabilitas harga beras dan pencapaian cadangan beras nasional terbesar dalam sejarah menjadi indikator awal keberhasilan manajemen pangan pemerintah.
Secara khusus, ia mengapresiasi program Makan Bergizi Gratis.
Program tersebut dinilai berhasil menciptakan efek berganda (multiplier effect).
Selain memperbaiki kualitas gizi pelajar, kebijakan ini menghidupkan ekonomi pedesaan karena menyerap hasil panen petani lokal dengan harga yang lebih adil.
“Petani kini punya kepastian pasar, tidak lagi dipermainkan tengkulak. Ini bentuk perlindungan negara yang nyata,” ujar Mahendra.
Pertahanan sebagai Posisi Tawar
Menutup pandangannya, Mahendra menekankan aspek pertahanan.
Modernisasi alat utama sistem senjata (alutsista) di bawah komando Prabowo bukan sekadar gagah-gagahan, melainkan upaya menjaga martabat bangsa.
“Dunia internasional menghormati kekuatan. Pertahanan yang solid memberikan kita posisi tawar (bargaining position) yang kuat untuk memastikan kekayaan alam di Natuna dan wilayah lainnya tidak dicuri.
“Visi ini mengembalikan kepercayaan diri kita sebagai bangsa besar,” pungkasnya.
Baca juga : Dampak Diplomasi Internasional Prabowo Subianto Bagi Indonesia





Lappung Media Network