Lappung – Langkah agresif Presiden Prabowo Subianto di kancah internasional sepanjang tahun 2025 menuai sorotan.
Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, menilai strategi diplomasi “Seribu Kawan” yang dijalankan Kepala Negara telah mengubah wajah Indonesia dari sekadar partisipan menjadi pemain kunci dalam percaturan geopolitik global.
Baca juga : Diplomasi Tanpa Blok: Mengapa Prabowo Subianto Disegani Dunia
Sejak dilantik pada Oktober 2024, Presiden Prabowo tercatat langsung tancap gas.
Memasuki tahun 2026, rekam jejak perjalanan diplomatiknya menunjukkan intensitas tinggi.
Sepanjang 2025, Prabowo mengunjungi sekitar 25 negara melalui lebih dari 30 kunjungan kerja, mulai dari kekuatan besar seperti Tiongkok dan Amerika Serikat, hingga negara strategis di Timur Tengah seperti Turki, Mesir, dan Uni Emirat Arab (UEA).
“Gaya diplomasi Presiden Prabowo sangat berbeda. Beliau tegas dan to the point, namun tetap penuh kehangatan.
“Ini menandai pergeseran penting dari sekadar pragmatisme ekonomi menuju apa yang disebut sebagai strategic assertiveness.
“Indonesia kini berani bicara dan mengambil posisi,” ujar Mahendra Utama dalam keterangannya, Minggu, 4 Januari 2026.
Menurut Eksponen 98 tersebut, kolaborasi Presiden dengan Menteri Luar Negeri Sugiono menciptakan sinergi yang solid.
Mahendra membedah langkah strategis Prabowo ke dalam 3 pilar utama yang dinilai berhasil menaikkan tawar Indonesia, pertahanan, ekonomi, dan diplomasi berprinsip.
Pertahanan dan Ekonomi
Dalam sektor pertahanan, Mahendra menyoroti pertemuan Prabowo dengan Rusia dan Turki.
Menurutnya, langkah ini bukan sekadar transaksi pembelian senjata, melainkan upaya transfer teknologi jangka panjang.
“Prabowo paham betul soal kedaulatan. Ini langkah cerdas memposisikan Indonesia sebagai penyeimbang di tengah persaingan Indo Pasifik yang memanas,” jelasnya.
Baca juga : Jurus Diplomasi Ekonomi Prabowo: Kemitraan Kapal Rp87 Triliun, Solusi Win-Win RI-Inggris
Sementara di sektor ekonomi, Mahendra menyebut Prabowo selalu pulang membawa oleh-oleh konkret.
Ia mencontohkan komitmen investasi USD 23,8 miliar dari Jepang serta kesepakatan energi hijau dengan UEA.
“Ini membuktikan Indonesia diposisikan sebagai jantung rantai pasok global yang bisa diandalkan di tengah gejolak dunia. Bukan kebetulan, tapi hasil manuver yang terukur,” tegas Mahendra.
Suara Lantang untuk Palestina
Poin ketiga yang digarisbawahi Mahendra adalah keberanian Indonesia menyuarakan isu kemanusiaan, khususnya terkait Gaza dan Palestina.
Pidato Prabowo di Sidang Umum PBB dinilai Mahendra sebagai momen monumental.
“Indonesia bukan lagi penonton. Kita aktif memperjuangkan dunia yang lebih adil dan multipolar.
“Keberanian mengangkat isu sensitif di forum global ini yang membuat Indonesia disegani,” paparnya.
Tantangan Para Duta Besar
Kendati demikian, Mahendra mengingatkan bahwa visi besar Presiden membutuhkan eksekusi lapangan yang presisi.
Ia menekankan peran vital para Duta Besar (Dubes) sebagai ujung tombak diplomasi.
“Di era Prabowo, Dubes tidak boleh lagi sekadar ‘tukang stempel’ atau menunggu instruksi.
Mereka harus jadi deal maker yang gesit, mata dan telinga yang tajam, serta aktif jemput bola untuk memastikan kesepakatan tingkat tinggi benar-benar terealisasi hingga teknis,” kata Mahendra.
Mahendra menilai filosofi klasik yang sering dikutip Prabowo kini benar-benar mewujud dalam kebijakan luar negeri RI.
“Prinsip seribu kawan terlalu sedikit, satu lawan terlalu banyak itu nyata dijalankan.
“Diplomasi kita merangkul banyak kawan tanpa perlu menciptakan musuh, dan ini modal besar bagi Indonesia menuju 2045,” pungkasnya.
Baca juga : Strategi Prabowo Atasi Pengangguran: Terobosan Nyata di Tengah Tantangan Global





Lappung Media Network