Lappung – Langkah Presiden Prabowo Subianto yang berhasil mengamankan kesepakatan pembangunan kapal penangkap ikan bersama Pemerintah Inggris mendapat apresiasi tinggi.
Kesepakatan senilai £4 miliar atau setara Rp87,7 triliun ini dinilai sebagai bentuk diplomasi ekonomi modern yang saling menguntungkan.
Baca juga : 1 Tahun Prabowo-Gibran: Faisol Riza, Aktor Kunci Di Balik Akselerasi Industri Nasional
Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, menyebut langkah strategis yang dilakukan Presiden Prabowo bersama Perdana Menteri Inggris Keir Starmer tersebut membuktikan posisi tawar Indonesia yang semakin kuat di kancah global.
“Langkah diplomasi Presiden Prabowo ini patut diacungi jempol.
“Melalui kesepakatan pembangunan lebih dari 1.000 kapal penangkap ikan ini, beliau membuktikan bahwa diplomasi ekonomi bisa menjadi solusi yang menguntungkan semua pihak atau win-win solution,” ujar Mahendra Utama dalam keterangannya, Senin, 1 Desember 2025.
Penyelamat Industri Inggris
Menurut Mahendra, nilai kontrak yang fantastis tersebut bukan hanya menghidupkan industri maritim nasional, tetapi juga memberikan dampak signifikan bagi perekonomian Inggris.
Hal ini menjawab alasan mengapa PM Inggris menyambut kesepakatan ini dengan antusiasme tinggi.
“Mungkin ada yang bertanya, kenapa PM Inggris sangat berterima kasih? Jawabannya sederhana, kesepakatan ini menyelamatkan industri mereka,” jelas Mahendra.
Ia memaparkan, meskipun pembangunan kapal dilakukan di Indonesia, skema kemitraan itu melibatkan pasokan teknologi dan komponen dari Inggris.
Hal tersebut diprediksi mampu menyelamatkan sekitar 1.000 tenaga kerja di Inggris atau bahkan menciptakan lapangan kerja baru di sektor galangan kapal dan teknologi maritim mereka.
“Di tengah tekanan ekonomi global yang berat, kesepakatan seperti ini ibarat hujan di musim kemarau bagi Inggris.
“Mereka memasok teknologi dan tenaga ahli, sementara kita menyediakan tempat produksi,” tambahnya.
Keuntungan Ganda bagi Indonesia
Dari sisi domestik, Mahendra menilai program ini sangat selaras dengan visi Ekonomi Biru (Blue Economy) yang diusung pemerintah.
Baca juga : Strategi Prabowo Atasi Pengangguran: Terobosan Nyata di Tengah Tantangan Global
Keuntungan bagi Indonesia tidak hanya sekadar mendapatkan armada kapal, melainkan adanya transfer pengetahuan (transfer of knowledge) dan teknologi.
“Indonesia bukan cuma jadi penonton. Nelayan kita akan mendapatkan armada modern yang jauh lebih layak dan produktif.
“Lebih penting lagi, industri galangan kapal dalam negeri mendapat suntikan investasi besar-besaran dan alih teknologi canggih,” tegas Mahendra.
Ia menekankan bahwa proyek adalah bentuk pembangunan kapasitas nyata yang akan mendorong kemandirian maritim Indonesia di masa depan.
Dampak jangka panjangnya meliputi peningkatan kesejahteraan nelayan, ketahanan pangan, hingga naiknya kelas industri perkapalan nasional.
Setara di Mata Dunia
Mahendra menyoroti kecerdasan Prabowo dalam memanfaatkan kebutuhan domestik sebagai alat diplomasi internasional.
Program yang awalnya fokus pada ketahanan pangan, berhasil dikonversi menjadi instrumen strategis untuk mempererat hubungan dagang dengan negara maju.
“Ini diplomasi ekonomi yang matang. Kita tidak datang sebagai pengemis bantuan, tapi sebagai mitra setara yang punya bargaining power kuat,” ucapnya.
Menutup pandangannya, Mahendra optimis bahwa kolaborasi ini menjadi bukti Indonesia mampu bermain di level yang sama dengan negara-negara maju melalui strategi yang tepat.
“Kemitraan ini membuktikan Indonesia diperhitungkan.
“Saling menguntungkan, berbasis kebutuhan riil, dan berdampak nyata bagi rakyat kedua negara,” pungkas Mahendra.
Baca juga : Pinjaman 0,5 Persen untuk Daerah: Akselerasi Cerdas ala Prabowo-Purbaya





Lappung Media Network