Lappung – Hubungan transatlantik antara Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa kini berada di titik nadir.
Pernyataan kontroversial Donald Trump terkait ambisi penguasaan Greenland milik Denmark dinilai bukan sekadar retorika bisnis properti semata, melainkan peringatan keras bagi stabilitas tatanan internasional.
Baca juga : Badai Geopolitik Global: Nasib Perdagangan Indonesia di Antara 2 Raksasa
Eksponen 98, Mahendra Utama, menyoroti fenomena ini sebagai pergeseran fundamental peran Amerika Serikat di panggung dunia.
Menurutnya, ketegangan itu memicu kekecewaan mendalam dari para pemimpin Eropa, termasuk Emmanuel Macron.
“Ini bukan sekadar perbedaan pendapat diplomatik biasa.
“Sikap Trump soal Greenland dan kebijakan ekonominya adalah bentuk pengkhianatan terhadap nilai persekutuan yang selama puluhan tahun dijaga Washington,” ujar Mahendra Utama dalam keterangannya, Sabtu, 10 Januari 2026.
Pemeras Transaksional
Mahendra menganalisis bahwa ketidakbahagiaan Uni Eropa berakar pada ketidakpastian yang dibawa oleh kepemimpinan Trump.
Ia menilai, Gedung Putih kini tidak lagi menempatkan diri sebagai kakak pelindung bagi sekutunya.
“Di mata Eropa, Trump telah mengubah wajah Amerika dari pelindung menjadi semacam pemeras transaksional.
“Orientasinya murni untung-rugi, bahkan terhadap sekutu dekatnya sendiri,” tegas Mahendra.
Indikasi tersebut terlihat jelas dari pendekatan ekonomi proteksionis Trump yang mengancam penerapan tarif impor hingga 30 persen.
Bagi Uni Eropa, langkah ini sama saja dengan menabuh genderang perang dagang di dalam keluarga sendiri.
Ditambah lagi dengan intimidasi soal pendanaan NATO yang dinilai merusak semangat pertahanan kolektif.
Baca juga : Geopolitik Selat Taiwan: Akankah Menjadi “The Next Ukraine”?
Mahendra juga mengutip keresahan para pemimpin dunia, seperti Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen yang menyebut diskusi Greenland sebagai hal konyol, serta Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen yang mengingatkan bahwa tarif sepihak hanya akan membebani konsumen global.
America First dan Isolasionisme
Menurut Mahendra, kebijakan Trump yang terkesan agresif dapat dipahami melalui kacamata America First.
Data menunjukkan belanja pertahanan AS yang membengkak membuat Trump merasa negaranya dieksploitasi oleh sekutu yang dianggap menumpang gratis.
“Prediksinya jelas, AS akan terus mengurangi keterlibatan dalam pakta multilateral dan beralih ke kesepakatan bilateral yang pragmatis.
“Itu membuat negara seperti Kanada dan Australia mulai gelisah meninjau ulang posisi mereka,” paparnya.
Menari di Antara Dua Gajah
Menyikapi gejolak geopolitik ini, Mahendra Utama mengingatkan posisi Indonesia yang cukup pelik.
Di satu sisi, Jakarta membutuhkan investasi Amerika, namun di sisi lain, Uni Eropa adalah mitra dagang strategis untuk ekspor komoditas dan isu keberlanjutan.
Mahendra menyarankan agar pemerintahan Presiden Prabowo Subianto mengambil langkah taktis melalui diplomasi pragmatisme aktif.
“Indonesia tidak boleh terjebak memilih pihak. Kita harus menari dengan cerdas.
“Percepatan penyelesaian Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) dengan Uni Eropa harus dilakukan, sembari tetap membuka negosiasi tarif dengan AS,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa prinsip Bebas Aktif harus bertransformasi menjadi tameng pelindung ekonomi domestik.
Langkah tersebut bukan sekadar pencitraan politik luar negeri, melainkan upaya survival ekonomi bangsa di tengah ketidakpastian global.
“Jakarta harus menjadi penyeimbang. Pastikan hukum internasional tetap menjadi panglima, bukan hukum rimba geopolitik yang kini sedang dipertontonkan,” pungkas Mahendra.
Baca juga : Diplomasi Geopolitik: Bintang Pakistan dan Sinyal Strategis dari Rusia





Lappung Media Network