Lappung – Eskalasi dinamika geopolitik global yang kian memanas, mulai dari isu ketegangan Amerika Serikat (AS)-Venezuela hingga potensi konflik militer di Selat Taiwan, menjadi alarm serius bagi perekonomian nasional.
Eksponen 98, Mahendra Utama, memperingatkan bahwa posisi perdagangan Indonesia kini berada di titik rentan di antara perseteruan 2 raksasa ekonomi dunia.
Baca juga : Diplomasi “Seribu Kawan”: Menakar Langkah Catur Global Presiden Prabowo
Mahendra menyoroti bahwa ketidakpastian ini bukan sekadar isu militer, melainkan perang pengaruh ekonomi yang dampaknya bisa mengguncang fundamental ekspor Indonesia.
“Dunia sedang menahan napas. Belum usai dampak invasi Rusia, kini muncul potensi gesekan baru.
“Pertanyaan krusialnya, ke mana arah perdagangan kita jika mitra strategis seperti AS dan Tiongkok benar-benar beradu kekuatan,” ujar Mahendra dalam keterangannya, Senin, 5 Januari 2026.
Menurutnya, realisme politik tidak bisa diabaikan. Negara-negara besar bertindak demi kepentingan kekuasaan mereka, namun dampaknya akan langsung terasa hingga ke sektor riil di tanah air.
Kelumpuhan Manufaktur
Mahendra membeberkan fakta bahwa AS dan Tiongkok adalah 2 pilar utama penyangga ekspor Indonesia.
Tiongkok menyerap lebih dari 20 persen komoditas andalan seperti nikel, batu bara, dan minyak nabati.
Sementara AS merupakan pasar utama bagi produk manufaktur, tekstil, dan alas kaki.
Namun, ia memberikan catatan khusus pada potensi konflik di Selat Taiwan. Taiwan, sebagai jantung semikonduktor dunia, memegang kunci rantai pasok global.
“Gejolak Venezuela mungkin dampaknya terbatas pada pasar minyak. Tapi jika Selat Taiwan memanas dan rantai pasok semikonduktor putus, industri otomotif dan elektronik kita bisa lumpuh.
“Bayangkan pabrik-pabrik di Jawa Barat dan Banten berhenti beroperasi karena kehabisan stok chip,” tegasnya.
Baca juga : Menuju Raksasa Agraria Global: Strategi Danantara Memacu BUMN Perkebunan
Diversifikasi atau Mati
Menanggapi target pemerintah yang menetapkan nilai ekspor 2026 mencapai US$315 miliar serta pernyataan Menteri Perdagangan Budi Santoso mengenai pentingnya daya saing, Mahendra menilai target angka saja tidak cukup tanpa langkah taktis.
Ia menekankan 3 strategi konkret yang harus segera diambil oleh pelaku usaha dan pemerintah daerah agar tidak terjebak dalam badai ini.
“Pertama, diversifikasi pasar non-tradisional adalah harga mati. Jangan taruh semua telur dalam satu keranjang.
“Kita harus mulai agresif melirik pasar Asia Tengah, Afrika, dan Amerika Latin yang relatif jauh dari zona konflik,” jelas Mahendra.
Kedua, ia mendorong efisiensi rantai pasok dengan mengurangi ketergantungan bahan baku dari negara berkonflik.
Penguatan supplier lokal atau mencari alternatif dari negara netral menjadi opsi yang wajib dipertimbangkan.
Terakhir, Mahendra mendesak pemerintah daerah untuk lebih aktif memfasilitasi UMKM agar bisa memanfaatkan perjanjian dagang bilateral yang sudah diteken pemerintah pusat.
“Krisis adalah peluang bagi yang siap. Indonesia tidak boleh terjebak dalam dikotomi blok kekuatan.
“Kita harus lincah seperti Vietnam dan Singapura dalam menavigasi persaingan ini. Ini bukan saatnya menunggu, tapi bertindak cepat untuk adaptasi,” pungkasnya.
Baca juga : Strategi Prabowo Atasi Pengangguran: Terobosan Nyata di Tengah Tantangan Global





Lappung Media Network