Lappung.COM – Simak artikel OpiniMahe edisi kali ini, yang berjudul: Mengurai Jiwa Pariwisata Lampung: Bukan Sekadar Jalan dan Listrik.
Mengurai Jiwa Pariwisata Lampung: Bukan Sekadar Jalan dan Listrik
Oleh: Mahendra Utama*
Kemajuan pariwisata Lampung sering kali diukur dari indikator fisik yang kasat mata. Angka-angka pertumbuhan panjang jalan tol, rasio elektrifikasi, hingga perluasan jaringan sinyal internet di kawasan pesisir kerap dijadikan tameng keberhasilan.
Namun, jika pembangunan hanya berhenti pada raga infrastruktur, kita sedang mengabaikan fondasi paling mendasar dari industri jasa ini.
Pertanyaan krusialnya: mengapa destinasi kelas dunia seperti Pulau Pahawang atau Teluk Kiluan belum mampu menahan wisatawan untuk tinggal lebih lama?
Di sinilah pentingnya membedah rapor merah non-fisik pariwisata Lampung.
Mengapa Aksesibilitas Saja Tidak Cukup?
Dalam Teori Komponen Pariwisata (4A) yang dirumuskan oleh Cooper et al., daya tahan sebuah destinasi ditopang secara seimbang oleh Attractions (atraksi), Accessibility (aksesibilitas), Amenities (fasilitas pendukung), dan Ancillary (kelembagaan).
Ketika investasi publik berhasil mengamankan aspek aksesibilitas dan fasilitas dasar, sumbat botol (bottleneck) pembangunan pariwisata Lampung otomatis bergeser pada tata kelola atraksi dan penguatan kelembagaan lintas sektoral.
Jebakan Mass Tourism dan Minimnya Nilai Tambah
Kelemahan struktural pariwisata Lampung saat ini adalah ketergantungan yang tinggi pada formula mass tourism (wisata massal) yang miskin narasi.
Polanya serupa di banyak tempat: wisatawan datang berkelompok, berfoto di spot yang sama, lalu pulang tanpa membawa impresi mendalam.
Pakar pemasaran pariwisata, Alastair Morrison, jauh-jauh hari telah mengingatkan: “Destinasi yang sukses tidak hanya menjual pemandangan, melainkan pengalaman yang menyentuh emosi wisatawan.”
Selama Lampung hanya menjual keindahan alam tanpa sentuhan pengalaman, nilai ekonominya akan terus menguap ke luar daerah.
Menantang Arus Lewat Creative Tourism
Lampung sejatinya memiliki modal kebudayaan yang melimpah, mulai dari komoditas kopi komunal, wastra kain tapis, hingga hukum adat pesisir yang eksotis.
Pekerjaan Rumah (PR) terbesar bagi kolaborasi pemda dan pelaku usaha adalah mentransformasikan potensi mentah ini menjadi Creative Tourism (wisata kreatif).
Wisatawan tidak lagi diposisikan sebagai penonton pasif, melainkan aktor aktif.
Mereka harus difasilitasi untuk merasakan bagaimana dinamika memanen kopi robusta di kebun rakyat atau menghabiskan waktu berjam-jam memahami pola tenun bersama para perajin lokal di desa wisata.
Tanpa diversifikasi dan storytelling yang kokoh, investasi fisik triliunan rupiah hanya akan melahirkan pariwisata artifisial yang lekas membosankan. (*)
————————————————————-
* Penulis: Mahendra Utama adalah Pemerhati Pembangunan.





Lappung Media Network