Lappung.COM – Simak artikel OpiniMahe edisi kali ini, yang berjudul: Dari Lumbung Pisang ke Pabrik Nilai Tambah: Menuju Hilirisasi Berkelanjutan Lampung.
Dari Lumbung Pisang ke Pabrik Nilai Tambah: Menuju Hilirisasi Berkelanjutan Lampung
Oleh: Mahendra Utama*
Lampung, dengan tanah subur dan sinar mentari tropis, telah lama menjadi lumbung pisang nasional. Pada 2024, produksi pisang Lampung mencapai 1,57 juta ton berdasarkan data BPS bahkan pada 2026 angka produksi disebut menembus 2 juta ton dengan nilai ekonomi mencapai Rp30 triliun. Lampung pun konsisten menduduki peringkat kedua produsen pisang terbesar di Indonesia.
Namun, angka fantastis ini menyimpan pertanyaan mendasar: apakah kita hanya menanti panen, tanpa merajut masa depan?
Hilirisasi: Teori dan Keniscayaan
Dalam kerangka Value Added Theory dan Competitive Advantage Michael Porter, hilirisasi adalah strategi memperpanjang rantai nilai di dalam negeri melalui pengolahan pascapanen, agroindustri, dan integrasi pemasaran modern. Tujuannya: mengubah ekonomi berbasis komoditas primer menjadi ekonomi bernilai tambah tinggi.
Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menegaskan visi ini: “Kita tidak ingin Provinsi Lampung hanya menjadi daerah penghasil bahan mentah”. Ia mencontohkan, pisang yang dijual petani Rp7.000/kg bisa meningkat berkali-kali lipat setelah diolah menjadi keripik atau produk turunan.
Inovasi dari Akar Budaya dan UMKM
Hilirisasi bukan sekadar wacana. Warisan kuliner seperti salimpok bungking yang telah terdaftar sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia membuktikan akar kuat olahan pisang dalam budaya Lampung.
Kini, inovasi modern bertunas: pie pisang ala Yussy Asih merebut selera generasi muda, sementara eksplorasi tepung pisang membuka peluang pasar baru.
Kisah sukses UMKM “Njik Njik” dari Bakauheni menjadi bukti nyata. Berbekal pinjaman Rp50 juta dari BRI dan pendampingan Rumah Kreatif BUMN, usaha keripik pisang ini menembus pasar Jakarta hingga pameran di Belanda, dengan omzet puluhan juta rupiah per bulan.
“Sejak ikut RKB Bakauheni, saya banyak dapat pelatihan dan pendampingan pemasaran, legalitas usaha, hingga pengembangan diri,” ujar Riki Junaidi, pemilik Njik Njik.
Sinergi Lintas Sektor: Kunci Transformasi
Pemerintah Provinsi Lampung bergerak nyata: pada 2026 dialokasikan 82 unit mesin pengering senilai Rp27,36 miliar untuk meningkatkan kualitas hasil panen petani.
SEVP Ultra Mikro BRI, Muhammad Candra Utama, menyatakan komitmen mendukung produk unggulan lokal agar jangkauan pasar semakin meluas.
Namun, masih ada pekerjaan rumah. Penanganan pascapanen yang terbatas menyebabkan kehilangan hasil 20-30%. Diperlukan pemetaan koridor hilirisasi: sentra produksi, branding daerah, akses pasar digital, dan sertifikasi mutu.
Panggilan untuk Bertindak
Dari salimpok bungking hingga tepung pisang, dari keripik rumahan hingga ekspor setiap karya kecil bisa tumbuh menjadi cerita besar. Visi ini bukan utopia.
Ketika warisan budaya diakui, UMKM menembus pasar nasional, dan inovasi terus bermunculan, kita sedang menyaksikan transformasi ekonomi yang sesungguhnya.
Pucuk emas dari pisang Lampung menanti. Saatnya memetik bersama.
————————————-‐———————-
* Penulis: Mahendra Utama, Pemerhati Pembangunan.





Lappung Media Network