Lappung.COM – Simak artikel OpiniMahe edisi terkini, yang berjudul: Kolaborasi Kemiri NTB Jadi Model, Lampung BISA Siapkan KPH Pesawaran.
Kolaborasi Kemiri NTB Jadi Model, Lampung BISA Siapkan KPH Pesawaran
Oleh: Mahendra Utama*
Sinergi 8 SMV Kemenkeu di NTB
Kemiri yang selama ini hanya dikenal sebagai bumbu dapur, kini disulap menjadi komoditas ekspor bernilai jutaan dolar AS. Delapan Special Mission Vehicle (SMV) Kementerian Keuangan berkolaborasi mengembangkan kemiri Nusa Tenggara Barat melalui program TJSL Sinergi SMV 2026 bertajuk “Pemberdayaan Komoditas Desa Devisa Kemiri NTB yang Berkelanjutan dan Berorientasi Ekspor”.
Menteri Keuangan Suahasil Nazara menegaskan, pemerintah pusat berperan sebagai enabler untuk mendorong potensi ekonomi daerah.
“Saya senang melihat semangat sinergi yang sangat kuat di NTB,” ujarnya.
Setiap lembaga membagi peran: LPEI mendukung pascapanen, PT PII memperkuat kapasitas petani, PT SMI menanam bibit, hingga IIF dan PT Sejahtera Eka Graha mengembangkan produk turunan briket dan minyak kemiri.
Mengapa Kolaborasi Itu Kunci
Gray (1989) mendefinisikan kolaborasi sebagai proses di mana pihak-pihak yang saling bergantung bekerja bersama untuk memengaruhi masa depan isu kepentingan bersama.
Tadjudin menambahkan, manajemen kolaboratif harus mengakomodasi kepentingan seluruh stakeholders secara adil dan memandang setiap pihak sebagai entitas sederajat.
Model NTB membuktikan teori itu bekerja. Hasilnya bukan sekadar ekspor, tetapi terbangunnya ekosistem lengkap dari hulu ke hilir.
Kemiri NTB kini menembus pasar Jepang, dengan potensi perluasan ke Singapura. Target produksi pun dinaikkan hingga 3.600 ton per tahun untuk memperluas pasar global.
Lampung Sudah Punya Modal
Pertanyaannya, bisakah Lampung mengulang kesuksesan NTB? Jawabannya: sangat bisa. Bahkan, Lampung sudah memiliki fondasi yang lebih matang melalui Hutan Kemasyarakatan (HKm) di KPH Pesawaran.
Kawasan ini mengelola 10.903,56 hektare yang terdiri atas hutan lindung dan hutan produksi, dengan lebih dari 4.200 hektare areal perhutanan sosial yang telah berjalan.
KTH Wono Harjo binaan KPH Pesawaran bahkan memiliki potensi produksi 7.000 kg biji kemiri per tahun. Angka ini menunjukkan bahwa Lampung tidak memulai dari nol.
Yang dibutuhkan adalah replikasi model kolaborasi ala NTB dengan pemerintah provinsi sebagai fasilitator, dunia usaha sebagai penggerak hilirisasi, dan perguruan tinggi sebagai penyedia inovasi teknologi. (*)
——————————————————————
* Penulis: Mahendra Utama, Pemerhati Pembangunan.





Lappung Media Network