Lappung.COM – Simak artikel OpiniMahe edisi terkini, yang berjudul: KPH Pesawaran Sukses Kelola Kemiri, Iskandar Buktikan Kolaborasi Pentahelix.
KPH Pesawaran Sukses Kelola Kemiri, Iskandar Buktikan Kolaborasi Pentahelix
Oleh: Mahendra Utama*
HKm Pesawaran: Dari Izin ke Hilirisasi
Kesuksesan KPH Pesawaran tidak datang tiba-tiba. Gapoktanhut Pujo Makmur di Desa Banjaran dan HKm Alam Pala Lestari di Desa Penyandingan terbentuk pada 2018 dan baru memperoleh izin Perhutanan Sosial skema HKm pada 2021.
Artinya, dibutuhkan kesabaran dan konsistensi selama bertahun-tahun sebelum hasilnya terlihat.
Kepala KPH Pesawaran, Iskandar, menegaskan bahwa pendekatan yang diterapkan berhasil menyatukan dua kutub yang sering dianggap berseberangan: pelestarian lingkungan dan perputaran ekonomi.
“Kuncinya kolaborasi supaya hutan tetap lestari, ekonomi tumbuh, dan masyarakat sejahtera,” tegas Iskandar.
Lewat sistem agroforestri, kemiri ditanam bersama durian, petai, jengkol, dan aren sebagai tanaman tajuk tinggi. Hasilnya luar biasa.
Kemiri yang dijual basah hanya dihargai Rp 6.000/kg, setelah diolah menjadi minyak kemiri nilainya melonjak menjadi Rp 25.000 per 100 ml.
Cangkang kemiri pun tidak menjadi limbah diolah menjadi briket arang oleh mahasiswa ITERA.
Iskandar dan Kunci Kolaborasi
Iskandar bukan sekadar kepala unit. Ia adalah arsitek kolaborasi pentahelix yang melibatkan akademisi, bisnis, pemerintah, komunitas, dan media.
Dalam berbagai forum, ia konsisten menyuarakan bahwa KPH tidak bisa bekerja sendiri. Model pentahelix inilah yang menjadi fondasi keberhasilan KPH Pesawaran.
Keberhasilan ini juga ditopang teori Community Based Forest Management (CBFM) yang memberikan kewenangan lebih leluasa kepada masyarakat lokal dalam mengelola hutan.
HKm di Pesawaran membuktikan bahwa ketika masyarakat diberi akses dan kepercayaan, mereka tidak hanya menjaga hutan tetapi juga menciptakan nilai tambah ekonomi dari hutan yang mereka kelola.
Lampung BISA: Menuju Ekspor Kemiri
Dengan modal HKm yang telah berizin, kelompok tani yang sudah terorganisir dalam 98 KTH, serta dukungan Pemprov Lampung, Kementerian Kehutanan, ITERA, Unila, dan Polinela, Lampung memiliki semua elemen yang diperlukan untuk mengulang bahkan melampaui kesuksesan NTB.
Yang diperlukan sekarang adalah keberanian untuk melangkah ke tahap berikutnya: hilirisasi skala ekspor. Jika NTB baru memulai, Lampung sudah selangkah lebih maju dengan produk minyak kemiri yang telah lolos uji laboratorium dan dipasarkan melalui e-commerce.
Kolaborasi Kemiri, Lampung BISA! (*)
——————‐——-‐————————————–
* Penulis: Mahendra Utama, Pemerhati Pembangunan.





Lappung Media Network