Lappung.COM – Simak artikel OpiniMahe edisi terkini, yang berjudul: Jalan Pertanian Lampung: Ketika Beton Mengubah Nasib Petani.
Jalan Pertanian Lampung: Ketika Beton Mengubah Nasib Petani
Oleh: Mahendra Utama*
Mengapa Jalan Rusak Selama 30 Tahun Baru Disentuh Sekarang?
Selama lebih dari tiga dekade, petani di Rawa Pitu, Tulang Bawang, hidup dengan jalan rusak yang membuat biaya angkut membengkak dan harga gabah tertekan.
Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal bersama Kementerian PU akhirnya mengeksekusi perbaikan ruas Gedong Aji–Umbul Mesir dengan anggaran lebih dari Rp130 miliar.
Keputusan ini bukan sekadar proyek infrastruktur, melainkan intervensi sosial-ekonomi yang menyentuh akar persoalan kemiskinan petani.
Teori Transaction Costs dan Realitas Petani
Dalam studi pembangunan pedesaan, teori transaction costs menjelaskan bahwa akses jalan yang buruk menciptakan biaya tersembunyi: waktu tempuh panjang, kendaraan cepat rusak, dan posisi tawar petani melemah di hadapan tengkulak.
Penelitian Creightney (1993) dan Howe (1981) menegaskan bahwa jalan usaha tani memutus rantai biaya ini dengan membuka akses pasar dan menurunkan harga pokok distribusi.
Data lapangan membuktikan teori itu: waktu tempuh dari Sumber Agung ke Aji Mesir yang semula satu jam kini hanya lima menit.
Harga gabah basah naik dari sebelumnya tertekan menjadi Rp7.000 per kilogram, dan nilai tanah di sepanjang koridor melonjak dua kali lipat.
Bukan Sekadar Beton, Ini Instrumen Kesejahteraan
Gubernur Mirza menegaskan bahwa jalan ini adalah “urat nadi” yang membawa hasil panen menuju kesejahteraan.
Pemerintah bahkan menyiapkan dryer untuk mendorong harga gabah ke Rp8.500 per kilogram sebuah bukti bahwa infrastruktur harus diintegrasikan dengan hilirisasi agar manfaatnya berkelanjutan.
Teori Wilson (1973) menyebut jalan memperluas peluang dan memicu proses pembangunan yang berkelanjutan.
Rawa Pitu adalah pembuktiannya: dari penantian 30 tahun menuju peningkatan ekonomi warga sekitar. (*)
——————————————————————
* Penulis: Mahendra Utama, Pemerhati Pembangunan.





Lappung Media Network