Lappung.COM – Simak artikel OpiniMahe edisi terkini, yang berjudul: Pupuk Murah, Truk Bertambah, Petani Lampung Menuju Sejahtera.
Pupuk Murah, Truk Bertambah, Petani Lampung Menuju Sejahtera
Oleh: Mahendra Utama*
Di arena Ngruput, Pringsewu, Minggu (25/10/2026), Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal berdiri di hadapan ribuan petani dan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman. Ia menyampaikan kabar yang membahagiakan: pendapatan petani di kabupaten sentra pertanian Lampung meningkat.
Indikatornya bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan sesuatu yang bisa dilihat langsung di jalan-jalan desa pembelian kendaraan niaga melonjak hampir 40 persen, terutama light truck, truk, dan van. Penjualan semen retail di kabupaten-kabupaten pertanian pun naik hampir 20 persen.
Klaim itu bukan tanpa dasar. Di baliknya berdiri sebuah arsitektur kebijakan yang dirancang dari pusat hingga daerah, digerakkan oleh keyakinan bahwa kesejahteraan petani adalah fondasi ketahanan pangan bangsa.
Dari Karawang ke Pringsewu: Kebijakan yang Menjemput Krisis
Presiden Prabowo Subianto tidak menunggu krisis pangan datang. Pada 7 Januari 2026, ia mendeklarasikan swasembada pangan di Karawang, mempercepat target yang semula empat tahun menjadi satu tahun. Langkah itu bukan retorika.
Pemerintah menurunkan harga pupuk bersubsidi sebesar 20 persen untuk seluruh jenis urea, NPK, dan ZA tepat ketika harga pupuk dunia melonjak lebih dari 40 persen akibat gangguan pasokan global.
Pemerintah juga memangkas 145 regulasi pupuk, mempercepat distribusi, dan memperluas akses hingga ke tingkat desa.
Mentan Amran Sulaiman menyebut kebijakan ini sebagai bukti kecerdasan Presiden membaca situasi dunia. “Presiden Prabowo sejak awal sudah membaca bahwa dunia sedang menuju periode yang tidak stabil. Beliau memerintahkan kami untuk tidak menunggu krisis datang, tapi menjemputnya dengan kebijakan,” ujarnya.
Kebijakan itu terasa hingga ke Lampung. Gubernur Rahmat Mirzani Djausal dengan gamblang menyampaikan apresiasinya. “Semenjak Pak Prabowo menjadi presiden, harga pupuk murah dan harga komoditas itu naik semua; padi naik, jagung naik, singkong naik. Petani-petani di sini alhamdulillah pendapatannya jadi sangat luar biasa,” kata Gubernur Mirza.
Mirza bahkan secara terbuka berterima kasih kepada Presiden dan Menteri Pertanian. “Terima kasih kepada Pak Prabowo, terima kasih kepada Mentan atas perhatiannya kepada petani, dan karena kebijakan-kebijakan itu ya hari ini Lampung menjadi provinsi dengan pertumbuhan ekonomi nomor dua tertinggi se-Sumatera,” tuturnya.
NTP sebagai Cermin Daya Beli yang Menguat
Kesejahteraan petani memang tidak cukup diukur dari satu indikator. Namun data Nilai Tukar Petani (NTP) Lampung memberikan konfirmasi yang kuat. Pada September 2026, NTP Provinsi Lampung mencapai 137,63, naik 2,09 persen dibandingkan Agustus, dan melonjak 7,84 persen secara tahunan dibandingkan September 2025.
Kenaikan ini terjadi karena indeks harga yang diterima petani tumbuh 2,25 persen, jauh melampaui kenaikan indeks harga yang dibayar petani yang hanya 0,16 persen.
Artinya, daya beli petani riil meningkat: mereka menerima lebih banyak untuk hasil panennya sekaligus membayar lebih sedikit untuk kebutuhan produksi dan konsumsi.
Nilai Tukar Usaha Petani (NTUP) Lampung juga naik 2,24 persen menjadi 142,81, menandakan bahwa usaha tani semakin efisien dan menguntungkan. Angka-angka ini bukan sekadar statistik.
Mereka adalah fondasi rasional bagi lonjakan pembelian truk yang disebut Gubernur. Ketika pendapatan meningkat dan biaya produksi turun, rumah tangga petani memiliki ruang fiskal untuk berinvestasi pada alat distribusi yang selama ini mereka butuhkan.
Bibit Gratis, Hilirisasi, dan Masa Depan yang Ditanam
Kesejahteraan tidak berhenti pada panen tahun ini. Mentan Amran Sulaiman memastikan keberlanjutan melalui program bantuan bibit perkebunan senilai Rp350 miliar untuk Lampung.
Total 30 ribu hektare lahan akan ditanami, terdiri dari 12 ribu hektare tebu serta 18 ribu hektare kopi dan kakao, dengan 2,6 juta batang bibit disiapkan untuk mendukung perluasan areal.
Yang paling penting, semua bantuan ini gratis bibit, pengolahan lahan, hingga biaya penanaman. “Sekali lagi, semua gratis. Bibit gratis, biaya penanaman gratis, biaya olah gratis. Gratis untuk petani Indonesia. Itu dari Bapak Presiden Republik Indonesia,” tegas Mentan.
Di tingkat desa, Koperasi Desa Merah Putih menjadi motor penggerak baru. Koperasi ini tidak hanya mengelola distribusi pupuk dan menyerap gabah dengan harga yang telah ditetapkan, tetapi juga didukung akses pembiayaan berbunga rendah sekitar 6 persen serta bantuan alat mesin pertanian seperti truk, hand tractor, dan bentor. Dengan harga gabah ditetapkan Rp6.500 per kilogram tanpa potongan kualitas, petani memiliki kepastian usaha yang selama ini mereka rindukan.
Program ini sejalan dengan komitmen Gubernur Lampung untuk mengawal hilirisasi di tingkat desa, termasuk ekspor perdana tepung mocaf olahan petani Pringsewu ke pasar Amerika Serikat.
Menutup Celah, Membuka Jalan
Tentu, pembangunan tidak pernah selesai. Masih ada pekerjaan rumah yang harus dituntaskan bersama: memastikan that manfaat kebijakan dirasakan merata, termasuk oleh buruh tani dan petani kecil di pelosok. Namun arah kebijakan sudah jelas dan terukur.
Sinergi antara Presiden Prabowo, Mentan Amran Sulaiman, dan Gubernur Rahmat Mirzani Djausal telah menciptakan ekosistem yang memungkinkan petani Lampung tidak hanya bertahan, tetapi tumbuh menuju sejahtera.
Truk-truk baru yang melintas di jalan desa bukan sekadar kendaraan. Mereka adalah simbol harapan yang bergerak: hasil panen yang lebih cepat sampai pasar, biaya logistik yang lebih ringan, dan pendapatan yang lebih layak.
Di balik setiap truk, ada pupuk yang lebih murah, bibit yang gratis, dan harga gabah yang pasti. Itulah wujud nyata keberpihakan negara kepada mereka yang menanam pangan untuk bangsa. (*)
———————————————————————
* Penulis: Mahendra Utama, Pemerhati Pembangunan.





Lappung Media Network