Lappung.COM – Simak artikel OpiniMahe edisi terkini, yang berjudul: Pujian di Tengah Tekanan: Sinyal Diplomasi Singapura yang Terukur.
Pujian di Tengah Tekanan: Sinyal Diplomasi Singapura yang Terukur
Oleh: Mahendra Utama*
Membaca Waktu: Mengapa Pujian Datang Setelah Gas dan Kabel Dibicarakan
Pujian Menteri Luar Negeri Singapura Vivian Balakrishnan terhadap tim pemadam karhutla Indonesia pada 27 Oktober 2026 tidak muncul di ruang hampa.
Tiga hari sebelumnya, Indonesia memangkas ekspor gas ke Singapura sebesar 31 MMSCFD, dan seorang mantan anggota parlemen Singapura, Calvin Cheng, melontarkan sindiran “Potong?” yang menyinggung 90 persen lalu lintas internet internasional Indonesia melalui Singapura.
Dalam konteks ini, pujian bukan sekadar kebaikan hati; ia adalah sinyal diplomatik yang diperhitungkan.
Teori interdependensi kompleks menjelaskan mengapa Singapura memilih bergerak dari eskalasi ke apresiasi. Dalam hubungan yang saling bergantung, kekuasaan tidak hanya soal siapa yang lebih kuat, tetapi siapa yang lebih tahan terhadap gangguan.
Indonesia bergantung pada Singapura sebagai simpul konektivitas digital, tetapi Singapura juga bergantung pada pasokan gas dan stabilitas kawasan.
Menteri Komunikasi Indonesia, Meutya Viada Havid, mengingatkan bahwa jika kabel diputus, “80 persen kapasitas konektivitas Singapura juga terancam lumpuh”.
Pujian Vivian adalah upaya menurunkan tensi tanpa kehilangan muka, sekaligus menjaga agar isu karhutla tetap dalam bingkai kerja sama, bukan konfrontasi.
Joseph Nye mengingatkan bahwa soft power bekerja melalui daya tarik, bukan paksaan. Dengan mengapresiasi personel pemadam Indonesia, Singapura memproyeksikan citra sebagai tetangga yang menghargai upaya, bukan pihak yang hanya menekan.
Namun, pujian ini juga mengandung pesan tersirat: Singapura tetap menuntut akuntabilitas, sebagaimana terlihat dari kesiapan menjalin satgas bersama untuk menindak perusahaan pemicu kebakaran.
Diplomasi yang matang justru mampu memisahkan apresiasi terhadap manusia dari desakan terhadap kebijakan.
Pujian setelah tekanan bukan tanda kelemahan, melainkan pengelolaan risiko yang rasional dalam hubungan yang saling mengunci. Ia adalah bahasa diplomasi untuk mengatakan: kita bisa bekerja sama, asalkan kepentingan dasar kita tidak diganggu. (*)
——————————————————————
* Penulis: Mahendra Utama, Eksponen 98.





Lappung Media Network