Lappung.COM – Simak artikel OpiniMahe edisi terkini, yang berjudul: Karhutla, Gas, dan Kabel: Ketika Pujian Menjadi Instrumen Manajemen Krisis.
Karhutla, Gas, dan Kabel: Ketika Pujian Menjadi Instrumen Manajemen Krisis
Oleh: Mahendra Utama*
Anatomi Tekanan: Dari Asap ke Energi, dari Energi ke Konektivitas
Ketegangan Indonesia–Singapura pada Oktober 2026 memperlihatkan bagaimana isu lingkungan bertransformasi menjadi konflik multi-dimensi. Ketika kabut asap melintasi batas negara, persoalan karhutla segera menjadi urusan diplomatik.
Indonesia merespons dengan memangkas ekspor gas sebuah isyarat bahwa kerja sama energi tidak berjalan satu arah. Singapura, melalui Perdana Menteri Lawrence Wong, meminta komitmen kontraktual dihormati, sementara Calvin Cheng menyinggung kartu konektivitas digital.
Dalam rantai eskalasi ini, pujian Vivian Balakrishnan berfungsi sebagai katup penurun tensi yang memungkinkan kedua pihak keluar dari spiral pembalasan.
Dalam kerangka interdependensi kompleks, saluran-saluran hubungan perdagangan gas, konektivitas internet, lingkungan saling terkait tetapi tidak sepenuhnya sejajar.
Indonesia memiliki keunggulan dalam pasokan energi dan ukuran pasar digital; Singapura memiliki keunggulan sebagai simpul intermediasi.
Fatih Birol dari IEA memperingatkan bahwa dalam pasar energi, “komoditas paling langka adalah kepercayaan,” dan menggunakan energi untuk tujuan politik membawa risiko reputasi.
Pujian Vivian dapat dibaca sebagai upaya memulihkan sebagian kepercayaan itu tanpa meninggalkan tuntutan substantif.
Yang dilakukan Singapura bukan sekadar bersikap manis. Ini adalah manajemen sinyal dalam hubungan asimetris yang saling merugikan jika dipaksa.
Pujian terhadap pemadam karhutla mempertahankan narasi kemanusiaan, sementara ancaman hukum terhadap korporasi dan desakan kontrak tetap berjalan di jalur paralel.
Bagi Indonesia, pujian ini dapat dimanfaatkan sebagai pengakuan internasional atas upaya penanganan karhutla, tetapi juga menjadi cermin bahwa efektivitas diplomasi lingkungan akan menentukan posisi tawar di meja energi dan digital.
Jika ketegangan dibiarkan, stabilitas ASEAN dapat terganggu bukan oleh perang terbuka, melainkan oleh fragmentasi kepercayaan di antara negara-negara yang sebenarnya saling membutuhkan.
Pujian, dalam konteks ini, adalah pengingat bahwa diplomasi yang baik kadang dimulai dengan mengakui kerja keras pihak lain bahkan ketika kepentingan masih bersitegang. (*)
——————————————-‐————————
* Penulis: Mahendra Utama, Eksponen 98.





Lappung Media Network