Lappung – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandarlampung menggencarkan strategi proaktif untuk menjaring kasus Tuberkulosis (TBC) yang selama ini lolos dari deteksi.
Baca juga : Pemkab Pesawaran Targetkan 80 Persen Warga Nikmati Layanan Kesehatan Gratis
Tak lagi pasif menunggu di fasilitas kesehatan, tim kini dibekali teknologi X-ray portabel untuk menjemput bola langsung ke masyarakat.
Kepala Dinkes Bandarlampung, Muhtadi Arsyad Tumenggung, menjelaskan, penggunaan alat rontgen jinjing ini adalah bagian dari upaya serius memutus mata rantai penularan.
“Pemanfaatan teknologi X-ray portabel ini memungkinkan kami melakukan deteksi dini secara masif di lapangan,” ujar Muhtadi, dilansir pada Jumat, 24 Oktober 2025.
Langkah ini diambil menyusul banyaknya kasus TBC yang tidak terdiagnosis.
Menurut Muhtadi, banyak masyarakat cenderung menganggap batuk berkepanjangan sebagai penyakit ringan atau hal biasa.
“Padahal, keterlambatan deteksi justru memperbesar risiko penularan di lingkungan keluarga dan sekitar. Ini yang ingin kami potong,” tegasnya.
Dengan alat portabel tersebut, petugas kesehatan kini memiliki fleksibilitas untuk menyisir area-area yang dianggap rentan.
Skrining aktif ini bahkan menyasar hingga ke lembaga pemasyarakatan (lapas) dan lingkungan sekolah.
Muhtadi menambahkan, strategi ini sejalan dengan program nasional Temukan, Obati, Sampai Sembuh (TOSS) yang diimplementasikan di seluruh puskesmas.
Baca juga : Warga Lampung Dapat Cek Kesehatan Gratis di Hari Ulang Tahun, Begini Cara Daftarnya
“Petugas kami akan mendatangi rumah warga, melakukan pemeriksaan dahak, serta wawancara gejala. Jika ditemukan indikasi, akan langsung ditangani,” paparnya.
Pasien yang terkonfirmasi positif TBC akan segera menerima pengobatan standar nasional.
Dinkes juga memastikan proses pengobatan berjalan tuntas melalui pendampingan ketat.
“Setiap pasien akan diawasi oleh Pengawas Minum Obat (PMO), bisa dari kader atau petugas, agar mereka tidak putus berobat,” jelas Muhtadi.
Untuk menjamin akuntabilitas dan pemantauan, seluruh progres pengobatan dicatat secara digital melalui aplikasi Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB).
“Semua kami catat agar lebih transparan dan terukur. Ini adalah bagian dari strategi besar kami untuk sejalan dengan target eliminasi TBC nasional pada 2030,” pungkasnya.
Baca juga : Perkawinan Anak: Bom Waktu bagi Kesehatan dan Masa Depan
