Lappung – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang-gadang sebagai program andalan nasional harus tercoreng di awal pelaksanaannya di Kabupaten Tanggamus.
Baru berjalan 3 hari, program ini diwarnai insiden setelah belasan siswa SDN 1 Way Jaha, Kecamatan Pugung, dilaporkan mengalami mual, muntah, hingga lemas usai menyantap menu yang dibagikan pada Rabu, 6 Agustus 2025 lalu.
Baca juga : Keracunan Massal Siswa SD di Bandarlampung, Bakteri Bacillus Jadi Biang Keladi
Insiden ini sontak memicu kepanikan di lingkungan sekolah dan para orang tua.
Kini, kasus tersebut tengah diselidiki sambil menunggu hasil uji laboratorium untuk memastikan penyebab pasti dari gejala yang dialami para siswa.
Kepala Sekolah SDN 1 Way Jaha, Heri Purnomo, mengonfirmasi kejadian tersebut.
Ia merinci kronologi bermula saat pihak sekolah menerima 379 paket makanan sekitar pukul 09.05 WIB.
Namun, sesaat setelah didistribusikan, tercium aroma tidak sedap dari paket makanan yang berisi nasi, lele, tahu, dan sayur buncis.
“Belum lama dibagikan, beberapa anak sudah mengeluh mual. Ada yang langsung muntah di kelas, beberapa bahkan sampai lemas,” ungkap Heri, dikutip pada Sabtu, 9 Agustus 2025.
“Kami langsung bertindak cepat menarik kembali seluruh paket makanan, meskipun sebagian kecil sudah telanjur dikonsumsi siswa,” tambahnya.
Baca juga : Suami di Rawajitu Timur Racuni Istri Hingga Tewas, Kesal Tak Direstui Nikahi Adik Ipar
Heri meluruskan informasi yang beredar, menyebutkan total siswa yang harus mendapat penanganan medis berjumlah 18 orang, bukan 30.
Anak-anak yang menunjukkan gejala langsung dilarikan ke Puskesmas Rantau Tijang untuk mendapatkan pertolongan pertama.
“Respon dari pihak yayasan memang cepat dengan menurunkan ahli gizi, tapi faktanya di lapangan anak-anak tetap jatuh sakit,” tambahnya.
Sementara, pihak medis belum bisa menyimpulkan penyebab pasti dari insiden ini.
Kepala UPT Puskesmas Rantau Tijang menjelaskan bahwa pihaknya telah mengambil sampel makanan untuk diuji lebih lanjut di laboratorium.
“Gejala yang kami tangani meliputi muntah, pusing, dan sesak napas ringan.
“Dari 18 anak yang kami periksa, hanya satu siswa yang memerlukan rawat inap, sementara 17 lainnya sudah diperbolehkan pulang,” jelasnya melalui sambungan telepon.
Baca juga : Polisi Temukan 2 Zat Kimia Penyebab Keracunan Pisang Goreng
Meskipun banyak pihak menduga ini adalah kasus keracunan massal, pihak sekolah dan puskesmas memilih untuk tidak berspekulasi hingga bukti ilmiah keluar.
Upaya konfirmasi untuk mendapatkan kejelasan justru menemui jalan buntu dan kejanggalan.
Pihak Yayasan Darul Fatah selaku pengelola program MBG di Kecamatan Pugung enggan berkomentar.
Lebih mengejutkan, Irwan, yang mengaku sebagai pemilik dapur sekaligus seorang jurnalis, secara terang-terangan meminta agar peristiwa ini tidak dipublikasikan.
“Itu bukan kasus keracunan, saya mohon agar kejadian ini tidak diberitakan. Saya juga seorang jurnalis,” ujar Irwan.
Ia bahkan mengklaim bahwa penghentian distribusi ke SDN 1 Way Jaha adalah karena sudah terjadi masalah, dan masih banyak sekolah lain yang bersedia menerima program tersebut.
Irwan kemudian mencoba melempar tanggung jawab konfirmasi kepada salah seorang anggota TNI.
“Silakan hubungi beliau langsung, ini nomornya. Beliau juga salah satu yang bertanggung jawab di sini,” ucapnya.
Namun, saat dihubungi, personel TNI tersebut justru merespons dengan nada heran dan mengembalikan arah konfirmasi kepada Irwan.
“Coba sampean (Anda) pikirkan secara struktural, saya ini posisinya apa dan wewenang saya sejauh mana? Tinggal koordinasi saja dengan Bang Irwan,” tulisnya dalam pesan singkat.
Sikap saling lempar tanggung jawab dan kurangnya transparansi ini menimbulkan reaksi keras dari Lembaga Perlindungan Konsumen dan Niaga Indonesia (LPKNI) Tanggamus.
Ketua LPKNI Tanggamus, Yuliar Baro, menilai insiden ini adalah bukti lemahnya pengawasan program dari hulu hingga hilir.
“Baru berjalan 3 hari sudah bermasalah. Ini menunjukkan pengawasan lemah, mulai dari proses pengolahan, pengepakan, hingga distribusi ke sekolah,” tegas Yuliar.
Ia juga menyayangkan keputusan pengelola yang langsung menghentikan distribusi, seolah-olah menghindari kritik dan evaluasi.
“Seharusnya mereka introspeksi, bukan malah berhenti begitu saja. Ini menyangkut nyawa anak-anak.
“Kami mendesak agar dapur pengolahan MBG di Pugung dievaluasi total karena saya lihat sendiri banyak orang tak berkepentingan keluar masuk,” pungkasnya.
Baca juga : Massa dari Jakarta Serbu Kampus Malahayati, Polisi Pasang Badan Cegah Bentrokan
