Lappung – Di tengah ancaman degradasi ekosistem laut, tim dosen dari Institut Teknologi Sumatera (ITERA) memperkenalkan solusi inovatif untuk memulihkan terumbu karang di Desa Pahawang.
Melalui metode Coral Tree Nursery (CTN) atau budidaya karang vertikal, harapan baru untuk kelestarian bahari di salah satu destinasi wisata andalan Lampung ini mulai tumbuh.
Baca juga : Karya Anak PTPN Group Mendunia
Kegiatan pengabdian masyarakat yang dipimpin oleh dosen Program Studi Biologi ITERA ini digelar di Dusun Kalangan, Desa Pahawang, Kabupaten Pesawaran, belum lama ini.
Program itu secara khusus menyasar para nelayan dan pemandu wisata, garda terdepan yang paling merasakan dampak kerusakan sekaligus menjadi kunci keberhasilan restorasi.
Ketua tim pengabdian, Novriadi, menjelaskan bahwa kondisi terumbu karang di Pahawang, yang menjadi daya tarik utama wisata bahari, kini menghadapi tekanan serius.
Kerusakan ini tidak hanya mengancam keindahan bawah laut, tetapi juga keberlanjutan ekonomi masyarakat setempat.
“Data nasional menunjukkan hanya sekitar 7 persen terumbu karang di Indonesia yang dalam kondisi sangat baik.
“Di Pahawang, kerusakan ini dipicu oleh praktik penangkapan ikan yang merusak dan tekanan aktivitas wisata yang tinggi,” ujar Novriadi, dilansir pada Jumat, 8 Agustus 2025.
Baca juga : Daya Beli Petani Lampung Melemah, NTP Juli 2025 Turun 2,46 Persen
Tanpa intervensi yang tepat, lanjutnya, pesona Pahawang dapat memudar dan berdampak langsung pada mata pencaharian warga yang bergantung pada sektor pariwisata.
Menjawab tantangan tersebut, tim ITERA yang juga beranggotakan Yanti Ariyanti, Nurul Addha dan Jeane Siswitasari Mulyana, memperkenalkan metode Coral Tree Nursery (CTN).
Teknologi ini dirancang seperti “pohon” di bawah air yang berfungsi sebagai tempat pembibitan fragmen karang.
Strukturnya dibuat dari bahan sederhana seperti pipa PVC dan kawat antikarat, sehingga mudah dirakit dan diaplikasikan oleh masyarakat.
“Metode ini sangat efisien. Satu unit Coral Tree bisa menampung 50 hingga 100 bibit karang sekaligus.
“Dengan desain vertikal, kita bisa memaksimalkan ruang di kedalaman 8-10 meter,” jelas Yanti Ariyanti.
Dalam pelatihan, para peserta tidak hanya diberi teori, tetapi juga praktik langsung.
Mereka dibimbing untuk merakit struktur CTN dari nol, memotong fragmen karang (bibit), hingga simulasi pemasangan jangkar di perairan.
Baca juga : Lumbung Udang Nasional Ini Sukses Jadi Wilayah Paling Tajir se-Lampung
“Kami diajarkan dari awal sampai bisa pasang sendiri. Ini sangat membantu karena bahan-bahannya mudah didapat di sekitar sini.
“Semoga ini bisa cepat mengembalikan keindahan karang kita,” ungkap Nawawi, salah seorang nelayan yang menjadi peserta pelatihan.
Inisiatif ini pun mendapat sambutan hangat dari aparat desa dan masyarakat.
Kepala Dusun Kalangan menyatakan program ini sejalan dengan visi mereka untuk mengembangkan ekowisata yang berkelanjutan.
“Ini bukan hanya soal memulihkan karang, tapi juga membuka peluang baru. Ke depan, kami bisa membuat program adopsi karang untuk wisatawan yang datang.
“Ini akan menjadi nilai tambah bagi pariwisata Pahawang,” katanya.
Diketahui, tim ITERA berkomitmen untuk tidak berhenti pada pelatihan.
Mereka akan melakukan pendampingan dan monitoring secara berkala untuk memastikan bibit karang tumbuh dengan baik.
Sekaligus membangun kemitraan yang kuat dengan kelompok sadar wisata (Pokdarwis) setempat demi masa depan laut Pahawang yang lebih sehat dan lestari.
Baca juga : Produksi Lampung Utara Melimpah, Penjualan Gabah ke Luar Daerah Dibatasi
