Lappung – Dua aksi demonstrasi besar yang berlangsung di Lampung pada 1 dan 24 September 2025 menuai sorotan positif karena berjalan damai dan kondusif.
Pemerhati kebijakan dan Eksponen 98, Mahendra Utama, menilai fenomena ini sebagai cermin kedewasaan demokrasi di daerah, yang lahir dari kepemimpinan dialogis dan responsif dari para pemimpin muda Lampung.
Baca juga : Hari Tani Nasional, Pemprov Lampung Bentuk Tim Konflik Agraria
Menurut Mahendra, ribuan petani beserta elemen masyarakat sipil yang turun ke jalan untuk menyuarakan aspirasi mereka berhasil menjaga ketertiban karena adanya kepercayaan bahwa pemerintah mau mendengar.
“Fenomena ini menunjukkan bahwa Lampung mampu menampilkan wajah demokrasi yang sehat, di mana rakyat berani bicara dan pemerintah mau mendengar.
“Ini bukan hal yang terjadi tiba-tiba, melainkan buah dari kepemimpinan yang mengedepankan dialog,” ujar Mahendra Utama dalam keterangannya, Kamis, 25 September 2025.
Mahendra secara spesifik menyoroti peran Gubernur Rahmat Mirzani Djausal sebagai sosok pemimpin muda yang visioner.
Menurutnya, sikap tenang dan bijak Gubernur dalam memandang aspirasi rakyat sebagai energi pembangunan, bukan ancaman, menjadi kunci terciptanya suasana kondusif.
“Kepemimpinan Gubernur menegaskan bahwa kekuasaan bukan sekadar otoritas, melainkan sarana untuk menuntun rakyat menuju keadilan.
“Sikap seperti ini membuat massa percaya bahwa perjuangan mereka tidak akan sia-sia,” jelasnya.
Selain itu, kehadiran Wakil Gubernur Jihan Nurlaela yang turun langsung menemui massa aksi dinilai memberikan sentuhan empati yang menyejukkan.
Mahendra menyebut, pendekatan Jihan menghidupkan nilai-nilai budaya lokal.
Baca juga : Ribuan Petani Lampung Turun ke Jalan, Tuntut Reforma Agraria Sejati
“Sikap Wagub Jihan membuktikan bahwa pepatah Lampung, ‘Sai bumi rua jurai, nemui nyimah, nengah nyappur’, yang menjunjung keramahan dan keterbukaan bukan sekadar semboyan.
“Kehadirannya meredakan ketegangan dan menghadirkan rasa keadilan di tengah massa,” tambah Mahendra.
Tak hanya dari sisi eksekutif, Mahendra juga mengapresiasi peran strategis Ketua DPRD Lampung, Ahmad Giri Akbar, di jalur legislatif.
Ia memastikan bahwa suara rakyat yang disampaikan di jalanan tidak menguap, melainkan ditindaklanjuti dalam ruang-ruang kebijakan.
“Peran Ketua DPRD menjadi krusial untuk memastikan demokrasi berjalan utuh.
“DPRD hadir sebagai mitra rakyat sekaligus penyeimbang pemerintah, membuat proses demokrasi di Lampung menjadi lebih bermakna,” tegasnya.
Kolaborasi ketiga tokoh muda ini, lanjut Mahendra, telah mengubah paradigma lama yang memandang demonstrasi sebagai ancaman stabilitas.
Sebaliknya, aksi massa justru menjadi momentum untuk memperkuat legitimasi pemerintahan yang responsif.
“Seperti pepatah, ‘Alam takambang jadi guru’, setiap peristiwa adalah pelajaran.
“Dari demonstrasi damai 1 dan 24 September, Lampung mengajarkan kepada Indonesia bahwa dialog, empati, dan keberanian mendengar adalah jalan terbaik menuju kemakmuran bersama,” pungkasnya.
Baca juga : Kopi Lampung Mendunia Inspirasi Petani





Lappung Media Network