Lappung – Istilah Super Flu yang belakangan mencuat di tengah masyarakat akhirnya mendapat respon dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Lampung.
Pemerintah memastikan bahwa penyakit tersebut bukanlah varian virus baru yang misterius, melainkan bagian dari siklus influenza musiman.
Baca juga : Cegah Sebar Penyakit, Karantina Lampung Bakar 3,9 Ton Daging Ayam dan Jeroan Busuk
Klarifikasi ini disampaikan guna meredam kekhawatiran publik terkait potensi wabah baru.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Provinsi Lampung, dr. Lusi Darmayanti, menegaskan bahwa Influenza Tipe A adalah penyakit lama yang terus mengalami mutasi seiring berjalannya waktu.
“Masyarakat tidak perlu panik berlebihan. Influenza Tipe A ini sebenarnya hampir sama dengan flu musiman biasa.
“Gejala klinisnya mencakup demam, batuk, pilek, sakit kepala, hingga nyeri tenggorokan,” ungkap dr. Lusi, Rabu, 14 Januari 2026.
Menurut Lusi, perbedaan mendasar hanya terletak pada jenis strain virus yang sedang bersirkulasi.
Salah satu strain yang sering menjadi perbincangan adalah H3N2.
Ia menjelaskan bahwa jenis ini sudah bersirkulasi selama puluhan tahun dan secara medis tidak dikategorikan sebagai virus baru yang berbahaya.
Lebih lanjut, dr. Lusi memaparkan alasan mengapa seseorang bisa terinfeksi flu berkali-kali sepanjang hidupnya.
Hal ini disebabkan oleh sifat alami virus influenza yang mudah bermutasi untuk mempertahankan eksistensinya.
Baca juga : Kejar Target 2026, Pembangunan RS Penyakit Dalam Bandarlampung Dimulai
Meski demikian, berdasarkan data epidemiologi yang dikantongi Dinkes Lampung, mutasi yang terjadi tidak menunjukkan tingkat keganasan yang lebih parah dibandingkan varian-varian sebelumnya.
“Virus memang akan terus bermutasi untuk bertahan hidup.
“Namun, penilaian kami menunjukkan tidak ada peningkatan keparahan yang signifikan dari strain terdahulu,” jelasnya.
Dinkes Lampung juga menyoroti pola penyebaran virus ini. Peningkatan kasus Influenza Tipe A biasanya melonjak drastis di negara-negara yang memiliki 4 musim, khususnya saat memasuki musim dingin (winter).
Kondisi ini berbeda dengan Indonesia yang beriklim tropis.
Di Tanah Air, meski sirkulasi virus tetap ada sepanjang tahun (musim hujan dan kemarau), lonjakan kasusnya cenderung lebih rendah dan terkendali dibandingkan negara subtropis.
Kendati demikian, Dinkes Provinsi Lampung terus mengaktifkan sistem pemantauan (sentinel) influenza.
Langkah tersebut diambil untuk memonitor tren peredaran virus di masyarakat secara real time, sehingga langkah antisipasi dan pencegahan bisa dilakukan dengan cepat jika terjadi anomali kasus.
Baca juga : Pungli dan ODOL, Dua Penyakit Kronis Jalan Raya





Lappung Media Network