Lappung – Cuaca ekstrem yang melanda wilayah Jakarta dan sekitarnya pada Minggu, 12 Januari 2025 berdampak signifikan pada sektor transportasi.
Kabut tebal dan jarak pandang di bawah batas minimum memaksa sejumlah penerbangan tujuan Bandara Soekarno-Hatta (CGK) mengalihkan pendaratan (divert) ke bandara penyangga.
Baca juga : Dari 9 Jam ke 3,5 Jam: Mimpi Besar Kereta Cepat yang Menyatukan Jawa
Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, yang saat itu tengah melakukan perjalanan udara menggunakan Citilink QG 993, menjadi saksi langsung dampak cuaca buruk tersebut.
Di Apron Bandara Radin Inten II, Lampung, ia mendapati pemandangan tak biasa, 3 unit armada Boeing 737-800 milik Garuda Indonesia dari rute internasional Hong Kong dan Singapura terpaksa melakukan pendaratan darurat.
“Mereka bukan transit, tapi divert karena Jakarta nyaris tertutup kabut tebal.
“Ini momen krusial yang menguji kesiapan infrastruktur kita,” ujar Mahendra dalam keterangannya, Selasa, 13 Januari 2026.
Radin Inten II Siap Jadi Penyangga
Menurut data yang dihimpun, sekitar 109 penerbangan dari dan menuju Jakarta terdampak cuaca buruk hari itu.
Bagi Mahendra, keputusan pilot melakukan divert bukan sekadar prosedur teknis keselamatan, melainkan bukti ketangguhan Bandara Radin Inten II sebagai bandara cadangan.
“Infrastruktur di Sumatera terbukti solid menjadi penyelamat saat Jakarta ngambek.
“Apresiasi untuk pilot, ATC, dan tim Bandara Radin Inten II yang sigap menampung lonjakan pesawat internasional, padahal biasanya didominasi penerbangan domestik,” tegas Mahendra.
Ia menekankan bahwa dalam dunia penerbangan, keselamatan adalah harga mati.
Opsi holding (berputar di udara) atau divert menunjukkan kematangan pengambilan keputusan para pilot Indonesia di tengah situasi kritis.
Kereta Bandara Jadi Solusi Kemacetan
Tantangan tidak berhenti di udara. Setibanya di Bandara Soekarno-Hatta, akses jalan tol menuju pusat kota Jakarta dilaporkan lumpuh akibat banjir.
Ribuan kendaraan terjebak macet total (stuck). Dalam situasi chaos tersebut, moda transportasi berbasis rel menjadi solusi vital.
Mahendra menyoroti peran krusial KA Bandara Railink (KA Basoetta) yang tetap beroperasi normal di saat akses jalan raya terputus genangan air.
Baca juga : Pariwisata Lampung: Lonjakan Pengunjung, Jalan Gelap
“Saat jalan tol sudah jadi kolam raksasa, kereta api justru jadi pahlawan.
“Ini membuktikan pentingnya sistem transportasi berbasis rel yang memiliki jalur sendiri dan bebas banjir,” ungkapnya.
Ia menambahkan, penggunaan KA Bandara (923A/924A) bukan lagi soal gaya hidup, melainkan pilihan rasional di tengah ketidakpastian cuaca.
Kesiapan operator KAI Commuter menjaga ketepatan waktu (on time performance) dinilai berhasil menyelamatkan ribuan penumpang dari kemacetan parah.
Infrastruktur Masa Depan
Peristiwa 12 Januari ini, menurut Mahendra, memberikan pelajaran penting bagi pembangunan nasional.
Infrastruktur megah seperti bandara harus didukung oleh bandara cadangan yang mumpuni, serta konektivitas darat yang tahan bencana.
“Pembangunan tidak bisa setengah-setengah. Akses jalan raya harus dilengkapi transportasi publik berbasis rel yang tangguh.
“Ujung dari investasi triliunan rupiah haruslah keselamatan dan kenyamanan masyarakat,” paparnya.
Tak lupa, Mahendra juga memberikan apresiasi tinggi atas kolaborasi BUMN, khususnya InJourney dan KAI, yang dinilai cakap menangani situasi alam yang tidak bersahabat.
“Alhamdulillah, kerja sama antar pihak membuktikan BUMN kita siap. Terima kasih Citilink, InJourney Airport, dan KAI atas pelayanannya,” pungkas Mahendra.
Baca juga : Infrastruktur Jalan sebagai Mesin Penggerak Ekonomi Lampung: Analisis dan Arah Kebijakan





Lappung Media Network