Lappung – Kinerja Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung di bawah komando Gubernur Rahmat Mirzani Djausal kembali menorehkan catatan positif.
Hingga Triwulan III tahun 2025, realisasi investasi di Bumi Ruwa Jurai tercatat mencapai Rp12,94 triliun.
Baca juga : Lampung di Simpang Jalan: Ketika Pertumbuhan Ekonomi Tak Berjalan Seiring dengan Kualitas Kerja
Angka tersebut terbilang fantastis karena telah melampaui target tahunan yang ditetapkan, yakni sebesar 120,3 persen.
Capaian ini mendapat apresiasi tinggi dari Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, yang menilai lonjakan investasi ini sebagai indikator membaiknya iklim usaha dan kepercayaan pasar terhadap kepemimpinan Gubernur Mirza.
Menurut Mahendra, realisasi investasi ini tidak boleh dipandang sekadar deretan angka statistik, melainkan sebuah batu penjuru bagi percepatan kesejahteraan masyarakat Lampung ke depan.
“Capaian Rp12,94 triliun ini bukan sekadar angka di atas kertas. Ini adalah bukti sahih bahwa pondasi ekonomi kita makin kokoh.
“Kepercayaan investor yang tinggi adalah modal utama untuk menggerakkan roda pembangunan yang sempat melambat,” ujar Mahendra Utama, Selasa, 25 November 2025.
Multiplier Effect
Mahendra menyoroti dampak langsung dari masuknya arus modal ini, khususnya dalam penyerapan tenaga kerja.
Berdasarkan data, investasi yang masuk telah menyerap 18.505 tenaga kerja Indonesia (TKI).
Bagi Mahendra, penyerapan tenaga kerja ini akan menciptakan efek berganda (multiplier effect) yang signifikan hingga ke level ekonomi terbawah.
“Logikanya sederhana, ketika belasan ribu orang bekerja, mereka punya penghasilan. Daya beli meningkat, mereka belanja di pasar, makan di warung.
“Otomatis ekonomi akar rumput hidup. Seperti yang sering ditekankan Gubernur Mirza, geliat ekonomi harus dirasakan sampai ke lapisan terbawah,” tegasnya.
Ia juga mengapresiasi fokus investasi yang menyasar sektor riil seperti industri pengolahan, pertanian, dan perdagangan.
Lampung yang dikenal sebagai penghasil ubi kayu terbesar nasional, serta lumbung padi, kopi, dan lada, sangat membutuhkan sentuhan hilirisasi.
Baca juga : Dikukuhkan di IKN, Gubernur Lampung Didapuk Urus Ekonomi dan Kesra Seluruh Provinsi
“Dengan adanya investasi di sektor pengolahan, komoditas unggulan kita tidak lagi dijual mentah, tapi punya nilai tambah.
“Ini yang akan mendongkrak pendapatan daerah sekaligus kesejahteraan petani dan pelaku usaha lokal,” tambah Mahendra.
Iklim Usaha
Lebih jauh, Mahendra menilai kesuksesan ini tidak lepas dari strategi jemput bola dan keterbukaan yang diterapkan Gubernur Mirza.
Pendekatan komunikatif seperti forum Coffee Morning dengan dunia usaha serta penyederhanaan birokrasi melalui Online Single Submission (OSS) dinilai efektif memangkas hambatan investasi.
Selain itu, pembangunan infrastruktur jalan dan pelabuhan yang terus digenjot juga berperan vital dalam mengurangi ketimpangan antar wilayah dan memperlancar distribusi logistik.
“Gubernur Mirza berhasil menciptakan iklim usaha yang sehat dan tidak kaku.
“Investor butuh kepastian dan kemudahan, dan itu yang sedang disajikan oleh Pemprov Lampung saat ini,” jelasnya.
Mahendra pun optimistis jika tren positif ini dijaga, visi Lampung yang lebih mandiri dan sejahtera bukan lagi sekadar wacana.
“Target yang terlampaui ini adalah ‘start’ yang sangat baik.
“Tugas kita sekarang mengawal agar realisasi ini benar-benar menetes ke bawah, menjadi kesejahteraan nyata bagi seluruh masyarakat Lampung,” pungkas Mahendra.
Baca juga : Ekonomi Tumbuh 5,12 Persen, Pemprov Lampung Satu Suara dengan Pusat Kendalikan Inflasi





Lappung Media Network