Lappung – Sosok Presiden Tiongkok, Xi Jinping, kini dipandang sebagai salah satu pemimpin paling berpengaruh di dunia.
Namun, di balik kekuasaan absolutnya saat ini, terdapat kisah perjuangan dari titik nol yang jarang disorot.
Baca juga : Perang Dagang AS vs Tiongkok 2025: Peluang bagi Komoditas Lampung?
Hal itu diungkapkan oleh Eksponen 98, Mahendra Utama.
Mahendra menyoroti bagaimana perjalanan hidup Xi Jinping menawarkan perspektif menarik tentang ketangguhan mental.
Menurutnya, siapa yang menyangka bahwa seorang bocah yang pernah dipaksa bekerja keras di ladang terpencil, kini memegang kendali atas 1,4 miliar penduduk.
“Xi Jinping bukan sekadar Presiden Tiongkok biasa.
“Dia memegang 3 posisi kunci sekaligus, Sekretaris Jenderal Partai Komunis, Presiden, dan Ketua Komisi Militer Sentral,” ujar Mahendra Utama dalam keterangan tertulisnya, Selasa, 25 November 2025.
Mahendra menambahkan, kombinasi kekuasaan semacam ini belum pernah terlihat lagi sejak era Mao Zedong.
Bahkan, Xi berhasil melakukan sesuatu yang dianggap tabu dalam politik Tiongkok modern, yakni mengamankan periode kepemimpinan ketiga.
Tempaan Masa Kelam
Dalam pandangan Mahendra, karakter keras dan disiplin Xi tidak lahir dari kemewahan, melainkan dari penderitaan.
Meski lahir sebagai anak pejabat pada 15 Juni 1953, nasib Xi berubah drastis saat Revolusi Kebudayaan meletus di akhir 1960-an.
“Keluarganya dianggap tidak revolusioner. Xi yang saat itu masih remaja dikirim ke Desa Liangjiahe, Shaanxi.
“Itu tempat yang sangat jauh dari hiruk-pikuk ibu kota,” jelas Mahendra.
Baca juga : Investor Tiongkok Janjikan Produksi Jagung Lampung Naik 2 Ton per Hektare
Selama 6 tahun, dari 1969 hingga 1975, Xi hidup layaknya petani miskin.
Ia tidur di dalam gua, bekerja kasar di ladang, tanpa aliran listrik maupun fasilitas modern.
Mahendra menilai, fase inilah kawah candradimuka yang sesungguhnya bagi Xi.
“Banyak yang bilang, pengalaman inilah yang membuat Xi benar-benar paham penderitaan rakyat kecil.
“Itu bukan teori dari buku, tapi pengalaman langsung yang membekas dalam jiwanya,” tegasnya.
Setelah masa sulit itu, Xi bangkit mengejar pendidikan di Universitas Tsinghua, mengambil jurusan Teknik Kimia, hingga akhirnya meraih gelar doktor di bidang Teori Marxis dan Pendidikan Ideologi.
Kutu Buku yang Visioner
Selain ketahanan fisik, Mahendra juga mengagumi sisi intelektual sang pemimpin Tiongkok.
Xi Jinping dikenal sebagai sosok yang gemar membaca (kutu buku), mulai dari literatur klasik Tiongkok hingga filsafat Barat.
“Ini bukan sekadar basa-basi protokoler. Sejak kecil, ibunya sering menceritakan kisah Jenderal Yue Fei yang loyal.
“Ia juga mendalami Goethe, Dickens, Tolstoy, hingga filsuf Barat seperti Plato dan Hegel,” papar Mahendra.
Menurut Mahendra, sintesa dari bacaan luas dan pengalaman hidup itulah yang melahirkan Pemikiran Xi Jinping.
Sebuah gabungan filosofi Tiongkok kuno dengan teori politik kontemporer yang menjadi landasan kebijakan masif saat ini, mulai dari pemberantasan korupsi hingga proyek ambisius Belt and Road Initiative.
“Hari ini sulit membayangkan Tiongkok tanpa Xi Jinping. Dia telah mengubah wajah politik domestik dan diplomasi internasional negara itu.
“Apakah ini pertanda kebangkitan sesungguhnya atau konsolidasi kekuasaan yang terlalu terpusat? Waktu yang akan menjawabnya,” pungkas Mahendra.
Baca juga : BRCC Buka Jalan Pemuda Lampung ke Tiongkok: Kuliah, Magang, dan Karir Global





Lappung Media Network