Lappung – Penyelenggaraan Lampung Fest 2025 menjadi sorotan dan menuai pujian publik.
Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal dinilai membuat gebrakan karena berhasil menggelar festival berskala besar tanpa menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
Baca juga : Inisiasi Perdana Gubernur Mirza: Lampung Fest 2025 Tanpa APBD
Acara yang bakal dihelat pada 11-25 November 2025 mendatang, sepenuhnya ditopang oleh pendanaan dari pihak swasta, sponsor, dan partisipasi aktif pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Selain itu, pemerintah daerah memberikan kepercayaan penuh kepada anak-anak muda yang tergabung dalam Forum Lampung Kreatif (FOLK) sebagai motor penggerak utama.
Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, menyebut langkah ini sebagai terobosan signifikan yang memutus pola lama penyelenggaraan acara daerah.
“Selama ini kita tahu sendiri, banyak event daerah cuma jadi beban anggaran.
“Seremonial, foto-foto, lalu selesai. Dampak ekonominya nyaris nol,” ujar Mahendra Utama, Selasa, 21 Oktober 2025.
Menurutnya, dengan model pendanaan mandiri ini, alokasi APBD yang biasanya tersedot untuk acara seremonial kini bisa difokuskan kembali pada kebutuhan dasar masyarakat.
“Hasilnya, uang rakyat yang biasanya habis untuk dekorasi panggung kini bisa dialihkan ke yang lebih mendesak, sekolah, puskesmas, atau perbaikan jalan rusak,” tegasnya.
Di sisi lain, Mahendra turut menyoroti perubahan paradigma dalam tata kelola festival ini.
Kunci kesegaran Lampung Fest 2025, menurutnya, adalah keberanian Gubernur Mirza untuk memercayakan eksekusi kepada komunitas.
“Yang lebih segar lagi, Gubernur Mirza percaya penuh pada anak muda. Forum Lampung Kreatif (FOLK) diberi ruang luas sebagai motor penggerak,” jelas Mahendra.
Dalam model ini, lanjutnya, pemerintah hanya bertindak sebagai fasilitator, bukan lagi mengatur segala hal dari A sampai Z.
“Alhasil, festival bukan lagi proyek pemerintah yang harus sukses, tapi pesta rakyat yang tumbuh dari semangat komunitas sendiri,” imbuhnya.
Baca juga : Dari Seruit hingga Karnaval Topeng, K-Fest 2025 Rayakan Kekayaan Lampung
Festival ini pun mengusung tema Coffee and Tourism.
Pemilihan tema tersebut dianggap sangat strategis untuk mengangkat citra Kopi Robusta Lampung, yang kualitasnya sudah diakui di pasar internasional, sebagai daya tarik utama.
“Pengunjung tak sekadar menikmati musik atau kuliner, tapi juga berkenalan dengan produk unggulan daerah, dari petani hingga kedai kopi,” tambah Mahendra.
Cetak Biru untuk Daerah Lain
Mahendra Utama menyimpulkan bahwa Lampung Fest 2025 bukan sekadar festival biasa.
Ia melihatnya sebagai sebuah eksperimen sukses dari model tata kelola baru yang partisipatif.
“Ini eksperimen tata kelola baru, pemerintah yang percaya pada rakyatnya, swasta yang mau turun tangan, dan komunitas yang diberi kepercayaan untuk berkarya,” paparnya.
Ia berharap apa yang dilakukan di Lampung ini bisa menjadi cetak biru (blueprint) dan inspirasi bagi daerah-daerah lain di Indonesia untuk berani mandiri.
“Jika Lampung berhasil, ini bisa jadi cetak biru untuk daerah lain.
“Ini bukan soal budget besar, tapi soal keberanian keluar dari zona nyaman dan mengajak semua pihak duduk bersama membangun sesuatu yang nyata. Saatnya daerah lain ikut berani,” pungkasnya.
Baca juga : Ajang Muda-mudi Lampung Bertemu, Festival Nyambai Bayu Digelar Mei Mendatang
