Lappung – Lempar jumrah jadi langkah akhir jemaah haji di Mina.
Setelah menyelesaikan wukuf di Arafah dan mabit di Muzdalifah, jemaah haji melanjutkan perjalanan spiritual mereka ke Mina untuk menjalani ritual lempar jumrah, yang menjadi salah satu rukun dalam ibadah haji.
Baca juga : Jemaah Haji Lampung Bergerak ke Muzdalifah
Ribuan jemaah, termasuk 241 ribu jemaah asal Indonesia, bersiap untuk melontar Jumrah Aqabah pada tanggal 10 Dzulhijjah, diikuti dengan lemparan ke 3 jumrah pada hari-hari tasyrik.
Ritual ini mengharuskan setiap jemaah mengumpulkan atau membawa sendiri batu kerikil sebanyak 70 atau 49 butir.
Batu-batu ini kemudian dilemparkan ke 3 tiang yang dikenal sebagai Jumroh Aqabah, Jumrah Ula, dan Jamrah Wustha.
Pada tanggal 10 Dzulhijjah, jamaah melempar tujuh batu ke tiang Jumrah Aqabah, sementara di hari-hari berikutnya, setiap tiang menerima 7 lemparan batu.
Allah berfirman dalam Al-Quran:
“Barangsiapa yang ingin segera menyelesaikan lempar jumrahnya dalam dua hari, maka tiada dosa baginya.
“Dan barangsiapa yang ingin menyempurnakannya dalam tiga hari, maka tidak ada dosa baginya” (QS. Al-Baqarah: 203).
Baca juga : Jemaah Haji Lampung Wukuf di Tengah Cuaca Ekstrem
Ayat ini memberi fleksibilitas bagi jamaah dalam menyelesaikan ritual ini, dengan fokus pada niat dan kesungguhan mereka dalam beribadah.
Jemaah Indonesia, termasuk dari Provinsi Lampung, telah tiba di Mina dan bersiap untuk ritual ini.
Setelah shalat Subuh, secara bertahap mereka bergerak menuju lokasi lempar jumrah yang berjarak sekitar 4 kilometer dari tempat pondokan mereka.
Dengan total perjalanan pulang pergi mencapai 8 kilometer, para jemaah harus menghadapi tantangan fisik yang tidak ringan.
