Lappung – Perekonomian Kabupaten Jember menunjukkan potret ganda sepanjang tahun 2024.
Tumbuh solid sebesar 4,86 persen, namun di saat yang sama rentan terhadap guncangan eksternal seperti krisis distribusi bahan bakar minyak (BBM) dan dampak perubahan iklim di sektor pertanian.
Baca juga : Menyelamatkan Warisan Tembakau Jember
Respon cepat kepemimpinan daerah menjadi kunci dalam mengatasi tantangan, sementara potensi besar dari sektor agraris dan UMKM menanti untuk dioptimalkan.
Komisaris PT Mitratani Dua Tujuh, Mahendra Utama, menyatakan bahwa dinamika yang terjadi dalam sebulan terakhir memperlihatkan karakter Jember yang rapuh sekaligus tangguh.
“Di satu sisi, kita melihat bagaimana kelangkaan BBM akibat terganggunya jalur distribusi mampu melumpuhkan sebagian roda ekonomi.
“Di sisi lain, ada ketangguhan yang ditopang oleh respons cepat pemimpin dan fundamental ekonomi lokal yang kuat,” ujar Mahendra, Senin, 25 Agustus 2025.
Respon Cepat Atasi Krisis BBM Jadi Sorotan
Pada akhir Juli lalu, penutupan jalur Gumitir memicu krisis distribusi BBM yang berdampak luas di Jember.
Antrean kendaraan mengular di berbagai SPBU, melumpuhkan sektor transportasi, logistik UMKM, hingga layanan ojek online.
Baca juga : 2 Pahlawan Gizi dari Jember: Edamame dan Okra, Superfood Lokal yang Menaklukkan Pasar Global
Di tengah situasi tersebut, Bupati Jember, Gus Fawaid, turun langsung ke lapangan untuk memonitor kondisi dan memastikan pemerintah daerah bergerak cepat mencari solusi.
Upaya ini diperkuat oleh peran strategis anggota DPR RI Fraksi PKB, Nasim Khan, yang menjembatani komunikasi dengan pemerintah pusat dan Pertamina.
“Langkah sinergis ini membuahkan hasil konkret. Alokasi BBM untuk Jember berhasil ditingkatkan dari 1.000 KL menjadi 2.100 KL per hari, yang secara signifikan mengurai kelangkaan.
“Ini adalah cerminan negara hadir saat dibutuhkan,” jelas Mahendra.
Data BPS: Transportasi Tumbuh Tertinggi, Pertanian Tetap Dominan
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Jember atas dasar harga berlaku mencapai Rp102,76 triliun pada tahun 2024.
Pertumbuhan ekonomi sebesar 4,86 persen ini sedikit berada di bawah rata-rata Provinsi Jawa Timur yang mencapai 4,93 persen.
Dari sisi produksi, sektor transportasi dan pergudangan menjadi penyumbang pertumbuhan tertinggi dengan lonjakan sebesar 10,41 persen, menandakan pulihnya sektor logistik pasca-pandemi.
Baca juga : Syair Edamame dan Okra di Bumi Jember, Karya: Mahendra Utama
Meski demikian, struktur PDRB Jember masih didominasi oleh sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan yang berkontribusi sebesar 25,71 persen.
Hal ini menegaskan kembali posisi Jember sebagai daerah agraris yang menggantungkan perekonomiannya pada sektor primer.
UMKM Jadi Penopang Stabilitas Tenaga Kerja
Di tengah tantangan ekonomi, pasar tenaga kerja di Jember menunjukkan stabilitas yang patut diapresiasi.
Dominasi sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang fleksibel berhasil meminimalkan terjadinya pemutusan hubungan kerja (PHK) massal.
“Beberapa perusahaan bahkan membuka lowongan baru, didukung oleh program pelatihan gratis yang digencarkan Pemkab.
“Ini modal sosial yang sangat penting,” tambah Mahendra.
Namun, ia mengakui tantangan seperti upah yang relatif rendah dan mobilitas tenaga kerja terampil yang terbatas masih perlu diatasi melalui pelatihan yang berorientasi pada kebutuhan industri modern.
Ancaman Iklim di Sektor Pertanian
Di balik dominasinya, sektor pertanian menghadapi ancaman serius dari perubahan iklim.
Cuaca ekstrem telah menyebabkan kerugian signifikan bagi petani.
Mahendra mencontohkan petani tembakau di Kecamatan Ampel yang merugi hingga Rp80 juta akibat banjir, serta anjloknya harga cabai di Desa Lojejer karena kualitas panen yang menurun akibat cuaca tak menentu.
“Ini alarm bagi kita semua. Ketahanan pangan tidak bisa lagi bergantung pada metode tradisional.
“Jember butuh investasi dalam irigasi modern, teknologi pasca-panen, dan kolaborasi antara pemerintah, akademisi seperti Universitas Jember dan Polije, serta swasta,” tegasnya.
Arah ke Depan: Sinergi untuk Pertumbuhan Berkelanjutan
Menurut Mahendra Utama, pertumbuhan ekonomi 4,86 persen adalah modal awal yang kuat, bukan tujuan akhir.
Untuk melangkah lebih jauh, Jember memerlukan 3 fokus utama:
- Infrastruktur Energi Andal: Memastikan distribusi lancar hingga ke pelosok untuk mencegah krisis serupa terulang.
- Peningkatan Kualitas SDM: Mengintegrasikan pelatihan dengan kebutuhan industri dan agribisnis modern berbasis digital.
- Pertanian Adaptif Iklim: Mendorong inovasi dan teknologi tepat guna untuk melindungi petani dari dampak cuaca ekstrem.
“Masa depan Jember sangat cerah, tetapi potensi itu harus digerakkan secara kolektif.
“Dengan sinergi antara semua pihak dan kepemimpinan yang responsif, Jember bisa menjadi contoh bagaimana ekonomi lokal tumbuh tangguh di tengah gejolak global,” pungkasnya.
Baca juga : PTPN I Regional 4 Gandeng Pemkab Jember Perangi Stunting, Salurkan Bantuan Rp79 Juta
