Lappung.COM – Simak artikel OpiniMahe edisi kali ini, yang berjudul: Mengurai Potensi Ekonomi Lampung Barat: Komoditas yang Stagnan dan Terpuruk.
Mengurai Potensi Ekonomi Lampung Barat: Komoditas yang Stagnan dan Terpuruk
Oleh: Mahendra Utama*
Sektor pertanian dan perkebunan merupakan tulang punggung ekonomi Kabupaten Lampung Barat. Namun, jika kita membedah lebih dalam, terdapat kontras yang nyata antara komoditas yang menjadi penyelamat ekonomi dengan komoditas yang justru jalan di tempat atau bahkan terpuruk.
1. Jalan di Tempat dan Terpuruk: Lada dan Kakao
Lada hitam Lampung (Lampung black pepper) yang dahulu menjadi primadona, kini mengalami stagnasi akut.
Penurunan luas lahan akibat serangan penyakit busuk batang dan fluktuasi harga yang tidak menentu membuat petani perlahan beralih fungsi lahan. Hal serupa terjadi pada komoditas kakao.
Peremajaan tanaman yang lambat serta kurangnya penerapan teknologi budidaya dan pasca-panen (hilirisasi) membuat kontribusi kakao terhadap Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) daerah cenderung menurun drastis dalam beberapa tahun terakhir.
2. Ada dan Berkembang: Kopi Robusta dan Padi (Suoh & Sukau)
Sebaliknya, Kopi Robusta Lampung Barat tetap berdiri kokoh sebagai motor penggerak ekonomi yang terus berkembang.
Melalui hilirisasi skala UMKM (kopi bubuk premium dan kopi luwak), nilai tambah komoditas ini terus naik.
Di sektor pangan, ketahanan beras dari wilayah lumbung padi seperti Kecamatan Suoh, Bandar Negeri Suoh (BNS), dan Sukau menunjukkan performa positif.
Pasokan beras dari wilayah ini menjadi pilar penting bagi stabilitas pangan regional.
Mengacu pada Growth Pole Theory (Teori Kutub Pertumbuhan) dari Albert Hirschman, investasi harus diarahkan pada sektor yang memiliki backward dan forward linkage yang kuat.
Kopi dan padi terbukti memiliki daya ungkit ini, sementara lada dan kakao memerlukan intervensi teknologi dan kepastian pasar agar tidak semakin terpuruk.
“Pembangunan ekonomi daerah yang tangguh tidak hanya bertumpu pada perluasan lahan, melainkan pada sejauh mana teknologi pasca-panen diadopsi untuk menciptakan nilai tambah di tingkat petani.” (*)
———————————————————————
* Penulis: Mahendra Utama adalah Pemerhati Pembangunan.





Lappung Media Network