Lappung.COM – Simak artikel OpiniMahe edisi kali ini, yang berjudul: Menjelajah Kuliner Metro: Rujak Petir dan Campanella yang Menggoda.
Menjelajah Kuliner Metro: Rujak Petir dan Campanella yang Menggoda
Oleh: Mahendra Utama*
Perjalanan Santai Menuju Kota Metro
Sabtu sore, 26 Juli 2026 pukul 15.40 WIB, saya dan istri memutuskan mencari kulineran di Kota Metro. Berjarak 35 km dari Tanjungkarang Barat, kami memilih jalur nasional ZA Pagar Alam lalu Jalan Alamsyah Ratu Prawira Negara Natar hingga pertigaan Tegineneng.
Mengapa jalan nasional yang sudah puluhan tahun? Jawabannya sederhana: karena kami tidak terburu-buru. Perjalanan santai justru memberi ruang untuk menikmati setiap tikungan dan pemandangan khas Lampung.
Rujak Petir: Segar dan Ramai Pengunjung
Tepat pukul 16.54 WIB kami tiba di Rujak Petir, Gang Palem, Kelurahan Mulyojati, Metro Barat. Suasana sudah penuh sesak pengunjung antre panjang untuk menikmati hidangan.
Kami memesan Rujak, 2 Kelapa Muda, dan Nasi Rames. Totalnya hanya sekitar Rp140 ribu, harga yang sangat ramah di kantong.
Rujak Petir menyajikan buah segar dari petani sekitar Metro: mangga, jambu, bengkoang, dan kedondong, dengan bumbu khas yang menggugah selera. Yang menarik, tempat ini memiliki nilai sosial tinggi.
Owner Rujak Petir, Baskoro Wicaksono, membangun usahanya dari keprihatinan terhadap petani buah yang selalu dihargai murah. “Rujak Petir, Local Farm memang kita bangun itu untuk kita peduli,” ujarnya. Bahkan mereka berkomitmen mendonasikan 100% keuntungan dari Local Farm untuk aksi kemanusiaan.
Campanella Coffee: Keindahan di Tengah Sawah
Seusai Magrib sekitar pukul 18.27 WIB, kami melanjutkan perjalanan ke Campanella Coffee and Eatery di Jalan Letjend Alamsyah Ratu Prawira Negara, Metro Pusat. Tempat ini menyuguhkan konsep mewah dan estetik di tengah sawah pengalaman nongkrong yang berbeda dari kafe kebanyakan.
Kami memesan Americano, Singkong Goreng, dan 2 botol air mineral dengan harga sekitar Rp70 ribu. Fasilitasnya sangat baik dan bersih, dengan taman belakang outdoor yang asri.
Saya berbisik kepada istri, “Kafe seperti ini pasti jadi favorit, tua maupun muda.” Malam itu pengunjung sangat ramai, membuktikan bahwa bukan hanya suasana yang dicari, tapi juga kualitas hidangan dan harga yang masuk akal.
Campanella buka setiap hari pukul 11.00–22.00 WIB, dengan menu lengkap dari western, asian, hingga nusantara.
Kota Metro: Pusat Kuliner yang Naik Kelas
Pukul 21.51 WIB kami beranjak pulang. Kesan yang membekas: Kota Metro kini semakin punya daya tarik kuliner dan tempat nongkrong berkelas bukan hanya untuk warga Metro dan sekitarnya, tapi juga warga Bandar Lampung.
Secara teori Siklus Hidup Destinasi Wisata (Butler), Metro sedang bertransisi dari tahap involvement menuju development. Warisan kuliner seperti Sate Pak Saleh dan Pindang Baung adalah fondasi autentik, sementara kafe modern adalah elemen amenitas yang memperpanjang masa tinggal wisatawan.
Richard Florida dalam The Rise of the Creative Class menekankan bahwa kota yang ramah terhadap kreativitas akan mengalami lompatan ekonomi. Kafe bukan sekadar tempat minum kopi, melainkan “ruang ketiga” untuk berjejaring dan melahirkan ide.
Metro memenangkan kontestasi dari sisi experience biaya operasional lebih rendah memungkinkan konsep unik dengan harga kompetitif, dan lokasinya yang strategis di tengah Lampung menjadikannya titik temu ideal.
Terima kasih Ya Allah, telah Engkau perjalankan kami berdua dengan kenikmatan yang tiada tara. (*)
——————————————————————–
* Penulis: Mahendra Utama adalah Pemerhati Pembangunan.
