Lappung – Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, menyoroti tantangan besar ekonomi Provinsi Lampung di awal tahun 2026.
Meski tak pernah absen dari peta lumbung pangan nasional, Lampung dinilai masih terjebak dalam paradoks lama, produksi pertanian melimpah, namun nilai tambah ekonomi justru terbang ke luar daerah.
Baca juga : Hilirisasi, Kolaborasi, dan Energi Surya: Menakar Wajah Baru Industri Lampung 2025
Menurut Mahendra, di bawah kepemimpinan Gubernur Rahmat Mirzani Djausal saat ini, Lampung berada di titik krusial.
Momentum itu harus dimanfaatkan untuk mengubah wajah daerah dari sekadar agraris menjadi kekuatan industri olahan yang nyata.
“Lihat saja datanya. Singkong kita tembus 7 juta ton per tahun, jagung 3,2 juta ton, dan padi 2,8 juta ton.
“Tapi pertanyaannya sederhana, kenapa petani kita belum merasakan kesejahteraan yang sepadan,” ujar Mahendra dalam keterangannya, Selasa, 20 Januari 2026.
Jebakan Bahan Mentah
Mahendra menjelaskan, akar masalahnya klasik namun fatal, yakni dominasi penjualan bahan mentah.
Ia mencontohkan komoditas kopi robusta Lampung yang produksinya mencapai 118 ribu ton, mayoritas masih diekspor dalam bentuk green bean (biji mentah).
Begitu pula dengan pisang yang produksinya mencapai 1,5 juta ton.
Sebagian besar hanya mengisi rak supermarket di Jawa sebagai buah segar, bukan sebagai produk olahan premium yang memiliki nilai jual berlipat.
“Ini bukan soal gengsi, tapi soal ekonomi dasar. Daerah yang hanya menjual komoditas mentah bakal selalu kalah nilai tukar dibanding daerah yang menjual produk industri.
“Lampung punya segalanya, tapi kalau cuma jadi pemasok bahan baku, kita akan tetap jalan di tempat,” tegasnya.
Belajar dari Tetangga
Mahendra yang juga dikenal sebagai Eksponen 98 ini menyarankan Lampung untuk bercermin pada provinsi tetangga yang lebih dulu bergerak.
Ia menyebut Jawa Timur yang sukses membangun pabrik pengolahan turunan jagung, mulai dari pati, pemanis, hingga pakan ternak, sehingga nilai tambahnya berputar di daerah sendiri.
Baca juga : Emas Hijau Lampung: Saatnya Tarik Investasi Hilirisasi Kelapa dan Tembus Pasar China
Selain itu, Sulawesi Selatan yang mulai serius pada hilirisasi kakao juga patut dicontoh.
“Lampung punya produksi kakao 50 ribu ton, tapi kita belum berani ambil langkah serupa. Kalau diolah jadi cokelat batangan atau bubuk premium, cerita ekonominya bisa beda total.
“Petani tidak akan lagi terlalu tergantung pada harga fluktuatif biji kering di pasar global,” papar Mahendra.
Langkah Gubernur
Kendati demikian, Mahendra memberikan apresiasi khusus terhadap visi Gubernur Rahmat Mirzani Djausal.
Ia menilai langkah Gubernur saat ini sudah on the track dengan adanya upaya perbaikan infrastruktur logistik, kemudahan izin industri, hingga menggandeng investor untuk masuk ke kawasan industri terpadu.
“Visi Bung Mirza (sapaan akrab Gubernur) layak diapresiasi. Beliau tidak cuma bicara hilirisasi di atas kertas.
“Ini sinyal kuat bahwa Pemprov Lampung serius tidak mau lagi membiarkan kekayaan alam keluar begitu saja tanpa nilai tambah,” katanya.
Langkah konkret pemerintah daerah tersebut, menurut Mahendra, mulai memberi harapan baru bagi petani dan pelaku usaha lokal.
Investor pun mulai melirik Lampung bukan sekadar sebagai ladang bahan baku, melainkan basis produksi masa depan.
Target Ekonomi 2026
Tak lupa, Mahendra juga menegaskan bahwa hilirisasi bukan lagi sekadar opsi, melainkan kebutuhan mendesak.
Ia mendorong agar di tahun 2026 ini, produk unggulan seperti kopi, singkong, dan pisang harus mulai merambah pasar global dalam bentuk produk jadi.
“Singkong harus masuk industri farmasi dan pangan modern, bukan cuma jadi gaplek. Kopi dan pisang harus jadi produk premium.
“Dengan dukungan penuh pada kepemimpinan Rahmat Mirzani Djausal, Lampung punya peluang besar naik kelas,” tegasnya.
Dirinya pun optimistis, jika semua pihak bergerak searah, Lampung akan merasakan kemenangan ekonomi yang sesungguhnya.
“Kemenangan itu bukan diukur dari jumlah ton yang diproduksi, tapi dari berapa banyak nilai tambah yang mengendap di kantong rakyat Lampung,” tutup Mahendra.
Baca juga : Hilirisasi Bangun Lampung Emas





Lappung Media Network