Lappung – Kebijakan hilirisasi komoditas unggulan terbukti menjadi motor penggerak baru perekonomian Provinsi Lampung.
Pada Semester I-2025, ekonomi daerah ini berhasil tumbuh impresif sebesar 5,27 persen, melampaui rata-rata pertumbuhan nasional.
Baca juga : Kementan Kucurkan Rp180 Miliar, Lampung Jadi Target Utama Hilirisasi Pangan
Menurut pemerhati pembangunan, Mahendra Utama, capaian ini tidak lepas dari keberhasilan program hilirisasi yang mentransformasi komoditas mentah seperti kopi, singkong, dan jagung menjadi produk bernilai tambah tinggi.
“Data menunjukkan keberpihakan yang tepat dari pemerintah.
“Sektor industri pengolahan, yang merupakan jantung dari hilirisasi, tumbuh luar biasa sebesar 9,37 persen.
“Angka ini adalah bukti nyata bahwa hilirisasi bukan lagi sekadar wacana, tetapi telah menjadi fondasi kokoh bagi pertumbuhan ekonomi Lampung,” ujar Mahendra, di Bandarlampung, Sabtu, 27 September 2025.
Ia menjelaskan, dampak dari strategi ini sangat signifikan.
Sektor industri pengolahan kini menjadi kontributor utama dengan porsi mencapai 33,65 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Lampung.
Mahendra merinci, potensi peningkatan nilai ekonomi dari program hilirisasi sangat besar.
Untuk komoditas jagung, misalnya, kontribusinya terhadap PDRB berpotensi melonjak dari hanya 3,4 persen saat dijual dalam bentuk mentah, menjadi 15 persen jika diolah lebih lanjut menjadi pakan ternak atau produk turunan lainnya.
“Begitu pula dengan kopi, komoditas kebanggaan Lampung.
“Jika diolah secara maksimal menjadi produk siap konsumsi, potensinya bisa naik dari 2 persen menjadi 12,6 persen. Ini adalah lompatan nilai tambah yang sangat besar,” jelasnya.
Untuk mengakselerasi proses ini, Pemerintah Provinsi Lampung telah menyalurkan berbagai intervensi, mulai dari bantuan alat pengering (dryer) hingga program pelatihan sumber daya manusia (SDM) di tingkat desa.
Langkah ini bertujuan agar nilai tambah dari komoditas tidak hanya dinikmati oleh industri besar, tetapi juga oleh petani di akar rumput.
Baca juga : Kelapa Lampung: Dari Komoditas Tradisional ke Hilirisasi Bernilai Tinggi
Keberhasilan hilirisasi tidak hanya tercermin pada angka pertumbuhan ekonomi, tetapi juga berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat.
Tumbuhnya industri pengolahan telah membuka serapan tenaga kerja secara signifikan.
“Ketika industri bergerak, lapangan kerja tercipta. Inilah yang mendorong penurunan angka kemiskinan di Lampung hingga menyentuh angka 10 persen.
“Ini adalah bukti bahwa pertumbuhan ekonomi yang didorong hilirisasi bersifat inklusif,” tegas Mahendra.
Ia juga menyoroti peran vital para pengusaha muda yang tergabung dalam Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) sebagai ujung tombak inovasi.
Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah dan sektor swasta, terutama generasi muda, menjadi kunci untuk menciptakan ekosistem hilirisasi yang berkelanjutan.
“Dengan komitmen kuat pemerintah daerah dan iklim investasi yang kondusif, Lampung berada di jalur yang tepat.
“Hilirisasi adalah jalan untuk mewujudkan cita-cita Lampung Emas,” pungkasnya.
Baca juga : Temui Menperin, Lampung Dorong Status Prioritas Nasional untuk Hilirisasi Pangan





Lappung Media Network