Lappung – Dinamika ekonomi di Pulau Sumatera menunjukkan pergeseran yang menarik dalam 5 tahun terakhir.
5 kota besar yakni Medan, Batam, Palembang, Pekanbaru, dan Bandarlampung membentuk konfigurasi ekonomi regional yang unik dengan karakteristik masing-masing.
Baca juga : Kawasan Metropolitan Lampung Raya: Kunci Pemerataan Ekonomi Lewat Koordinasi Regional
Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, menyoroti pola pertumbuhan ekonomi di kelima kota tersebut.
Berdasarkan data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dan tren investasi terkini, Medan memang masih memegang takhta, namun kota-kota lain mulai menunjukkan taringnya dengan spesialisasi yang berbeda.
“Kalau kita bicara angka absolut, Medan memang masih raja di Sumatera bagian utara.
“Posisi mereka sebagai pusat bisnis dan perdagangan tradisional sulit digoyahkan dengan PDRB di kisaran Rp 245 triliun,” ujar Mahendra Utama, Selasa, 23 Desember 2025.
Namun, Mahendra memberikan catatan khusus pada Batam.
Kota industri ini menempati posisi kedua dengan nilai ekonomi sekitar Rp165 triliun, tetapi memiliki laju pertumbuhan yang paling agresif.
Status Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dan kedekatan geografis dengan Singapura menjadi magnet yang sulit ditolak investor.
“Batam punya keunggulan komparatif yang tidak dimiliki kota lain.
“Insentif fiskal dan digitalisasi industri yang makin masif membuat Batam punya peluang besar menyalip dominasi Medan dalam beberapa tahun ke depan,” jelas Mahendra.
Kuda Hitam
Dalam peta kekuatan ekonomi ini, Palembang disebut Mahendra sebagai backbone atau tulang punggung ekonomi Sumatera Selatan yang stabil.
Dengan PDRB sekitar Rp155 triliun, kota ini ditopang oleh industri pengolahan yang terus berkembang.
Sementara itu, Pekanbaru yang mencatatkan PDRB sekitar Rp115 triliun, sangat bergantung pada dinamika harga komoditas global, mengingat sektor andalannya adalah jasa dan konstruksi yang beririsan dengan bisnis sawit serta migas.
Baca juga : Jalan Mantap Lampung: Akses Vital, Mesin Ekonomi yang Berputar Kencang
Yang menarik, Mahendra menyoroti posisi Bandarlampung.
Meski secara angka PDRB merupakan yang terkecil di antara kelima kota tersebut (kisaran Rp60 triliun), potensinya justru dianggap paling menjanjikan karena faktor konektivitas.
“Bandarlampung ini bisa dibilang naik kelas. Konektivitas penuh dengan Pulau Jawa melalui tol dan pelabuhan membuka peluang logistik luar biasa.
“Ia menjadi gerbang utama yang tidak pernah tidur,” jelas Tokoh Eksponen 98 tersebut.
Pemerataan dan Hilirisasi
Meski angka pertumbuhan terlihat mengkilap, Mahendra mengingatkan pemerintah daerah dan pelaku usaha agar tidak terlena.
PDRB tinggi tidak selalu berbanding lurus dengan kesejahteraan masyarakat jika tidak dikelola dengan prinsip inklusif.
Mahendra menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi harus menciptakan lapangan kerja nyata, bukan hanya memperlebar kesenjangan antara pemilik modal dan masyarakat umum.
Hal ini selaras dengan peringatan yang kerap disampaikan oleh para ekonom nasional mengenai pentingnya kualitas pertumbuhan ekonomi daerah.
“Tantangan bagi kota berbasis komoditas seperti Pekanbaru atau manufaktur seperti Batam adalah daya tahan.
“Diversifikasi sektor menjadi kunci agar ekonomi tidak rapuh saat harga komoditas global anjlok,” tegasnya.
Menutup analisisnya, Mahendra optimistis kelima kota ini akan terus menjadi motor penggerak ekonomi nasional.
Kuncinya terletak pada bagaimana pemerintah daerah memanfaatkan momentum infrastruktur, seperti Tol Trans Sumatera, untuk mempercepat perputaran uang dan barang.
“Masing-masing punya peran strategis. Medan dengan kemapanannya, Batam dengan teknologinya, dan Bandarlampung dengan konektivitasnya.
“Ini modal besar bagi Sumatera,” pungkas Mahendra.
Baca juga : Potensi Ekonomi Lampung yang Menunggu Sentuhan
