Dengan menanam kapulaga sebagai tanaman bawah, dimana kapulaga dan serasah, pada saat hujan walaupun tanahnya miring aliran permukaan dan erosi bisa tertahan.
“Menjadikan kualitas lahan bisa dipertahankan,” kata dia.
Kepala Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Way Seputih Way Sekampung (BPDAS WSS) Lampung, Idi Bantara, ikut menanggapi soal ini.
Menurutnya, pengelolaan hutan di Desa Banjaran sudah sesuai slogan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.
Yaitu, harus bisa dilihat dan dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat.
Dia juga mengaku, bersama Irwan dan Kadis Kehutanan Yanyan sudah bertemu Gubernur Lampung Arinal Djunaidi.
“Beliau meminta kami berkoordinasi dalam menyiapkan bibit tanaman MPTS yang diinginkan oleh petani hutan. Seperti jengkol, petai, dan alpukat” papar Idi Bantara.
Arinal, kata Idi Bantara, memberi apresiasi soal eksekusi kegiatan-kegiatan kehutanan yang mendukung program kerja Pemprov Lampung.
“Untuk memenuhi keinginan petani hutan, beliau juga secara khusus meminta BPDAS menyiapkan sekitar 10 ribu bibit MPTS secara bertahap,” imbuhnya.
Gubernur, sambungnya, ingin petani hutan memulihkan kembali seluruh hutan kritis.
“Gubernur berpesan agar kami BPDAS dan Dinas Kehutanan Provinsi Lampung bersama-sama menanam lewat program rehabilitasi lahan kritis di setiap KPH,” jelasnya.
Sementara, kepala KPH Pesawaran Iskandar, mewakili Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Lampung Yanyan Ruchyansyah, ikut angkat bicara.
Ia menjelaskan, Gapoktanhut Pujo Makmur di Desa Banjaran sudah memiliki akses legal hutan kemasyarakatan.
Iskandar mengaku, agroforestri yang sudah terbentuk dengan pemilihan jenis tanaman yang beragam, dengan musim yang berbeda waktu bisa diterapkan.
Petani Register 20 Pesawaran dinilai makmur
“Bisa dikatakan di sini tidak mengenal lagi paceklik. Berbeda dengan petani kopi yang panennya hanya sekali setahun,” jelas Iskandar.
Hal ini karena KPH sangat menjaga hutan yang manfaatnya sudah dirasakan.
Selain itu, hutan di Desa Banjaran memiliki 6 mirkohidro yang sudah berfungsi selama 11 tahun.
“6 unit itu melayani 67 keluarga. Artinya, 11 tahun turbin itu hidup menerangi masyarakat bisa menjadi indikator debit aliran air cukup, karena kondisi hutan yang baik,” terangnya.
Baca juga : Prioritas Pemkab Lamtim: Petani, Peternak dan Nelayan
Terpisah, ketua Gapoktanhut Pujo Makmur, Maryadi menambahkan, petani hutan mengharapkan hal lebih dari Forum DAS.
Salah satunya, untuk terus membimbing dalam hal peningkatan nilai tambah Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK).
“Pemilihan Merdeka Belajar-Kampus Merdeka di desa kami membuktikan lahan yang kami kelola memiliki banyak potensi,” ujar Maryadi.
Kata dia, Dinas Kehutanan juga pernah mengajak seluruh kepala KPH datang untuk studi banding.
KPH Pesawaran juga rutin mengajak komunitas fotografi dan komunitas jalan-jalan untuk berkunjung.
“Dan yang tidak kalah penting, sudah beberapa wartawan media online dan wartawan TV nasional mengunjungi hutan kami,” urainya.
Sekadar diketahui, kelompok tani hutan Register 20 Dusun Pujo Makmur, Desa Banjaran, Pesawaran memiliki berbagai hasil pertanian.
Antara lain, kapulaga seluas lebih kurang 1.500 hektare yang bisa panen 3 kali dalam 1 tahun.
Setiap panen rata rata 700 kg/hektare, dengan harga panen basah saat ini sekitar Rp12.000/kg.
Kemudian ada panen buah pala basah sekitar 1.200 kg/hektare/tahun. Dan untuk harga pala kering saat ini Rp70 ribu/kg,
Ditambah dengan hasil ikutan industri rumah tangga berupa minyak atsiri pala, kapulaga, minyak kemiri, briket cangkang kemiri, durian, ternak kambing dan lain sebagainya.
Baca juga : Petani Kambing Saburai Dapat Perhatian Gubernur





Lappung Media Network