Lappung – Nasib para petani tebu di Jombang, Jawa Timur, kini berada di ujung tanduk.
Gempuran gula impor berharga murah yang membanjiri pasar domestik menyebabkan harga jual tebu lokal anjlok, mengancam denyut nadi perekonomian ribuan keluarga yang telah menggantungkan hidup pada komoditas ini secara turun-temurun.
Baca juga : Harga Tetes Tebu dan Harapan
Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, menyatakan bahwa kondisi ini menciptakan ironi yang menyakitkan.
Di satu sisi, gula menjadi kebutuhan pokok masyarakat, namun di sisi lain, para produsennya justru terancam kehilangan mata pencaharian.
“Di balik manisnya gula yang kita tuang ke dalam kopi pagi, tersembunyi kepahitan nasib petani yang kini terancam kehilangan pijakan di tanah mereka sendiri,” ujar Mahendra Utama dalam keterangannya, Selasa, 30 September 2025.
Mahendra menjelaskan, para petani tebu di Jombang, yang mayoritas hidupnya bergantung pada serapan hasil panen oleh Pabrik Gula Djombang Baru di bawah naungan PT Sinergi Gula Nusantara (SGN), kini berada dalam posisi yang sangat rapuh.
Hubungan historis antara petani dan pabrik gula seolah tak berdaya menghadapi kekuatan pasar global.
“Begitu pasar dibanjiri gula impor, harga langsung terjun bebas.
“Hasil panen yang seharusnya menjadi nafkah keluarga malah berpotensi berubah menjadi beban utang yang menumpuk,” tegasnya.
Menurutnya, situasi ini sangat kontradiktif, di mana para petani yang menjadi pahlawan produksi pangan justru menjadi kelompok yang paling rentan secara ekonomi.
Di tengah situasi yang sulit, Mahendra melihat secercah harapan dari arah kebijakan pemerintah pusat.
Baca juga : Tembakau Jember: Napas Ekonomi Nusantara
Ia menyebut kebijakan Presiden Prabowo Subianto yang mengedepankan kedaulatan pangan sebagai angin segar yang sangat dinantikan.
“Kebijakan pro-kedaulatan pangan yang digagas Presiden Prabowo menjadi harapan baru.
“Ini bukan sekadar urusan bisnis atau angka ekspor-impor, tetapi menyangkut nasib jutaan keluarga petani di Jawa Timur dan seluruh Indonesia,” kata Mahendra.
Ia meyakini, kebijakan yang tepat akan mampu mengembalikan harga diri gula lokal dan martabat para petani yang membudidayakannya.
Menurutnya, langkah ini adalah fondasi untuk membangun kemandirian pangan nasional yang sesungguhnya.
Lebih lanjut, Mahendra Utama memberikan apresiasi kepada pihak-pihak yang masih berjuang untuk petani.
Ia menyoroti peran PTPN Group melalui SGN yang terus berupaya membuka akses pasar bagi petani, serta suara para akademisi dan aktivis yang konsisten mengingatkan publik akan pentingnya isu ini.
“Kolaborasi ini menyadarkan kita bahwa kedaulatan pangan dimulai dari menghormati pahlawan di rumah sendiri, bukan yang jauh di seberang lautan,” tuturnya.
Ia pun menutup dengan seruan bahwa sudah saatnya masyarakat dan pemerintah memberikan perhatian lebih serius kepada para petani tebu.
“Petani tebu adalah pahlawan tanpa tanda jasa dalam rantai pasok pangan kita.
“Sudah waktunya kita berhenti melupakan mereka dan mulai menghargai setiap keringat dan air mata di balik setiap sendok gula yang kita nikmati,” pungkasnya.
Baca juga : Tapioka Lesu, Petani Singkong Lampung Terjepit: Solusi Terpadu Dibutuhkan Segera
