Media Network
Lappung Media Network
  • Lappung
  • Lappung Balam
  • Lappung Bandar Jaya
  • Lappung Baradatu
  • Lappung Investigasi
  • Lappung Kalianda
  • Lappung Kotabumi
  • Lappung Literasi
  • Lappung Metro
  • Lappung Mahkamah
  • Lappung Menggala
  • Lappung Pekon
  • Lappung Pesawaran
  • Lappung Pringsewu
  • Lappung Politik
  • Lappung Tanggamus
  • Lihat Semua Media Network →
    • APH
    • Budaya
    • Ekonomi
    • Modus
    • Gaya Hidup
    • Metropolitan
    • Pemerintahan
    • Saburai
    • APH
    • Budaya
    • Ekonomi
    • Modus
    • Gaya Hidup
    • Metropolitan
    • Pemerintahan
    • Saburai
    No Result
    View All Result
    No Result
    View All Result
    • APH
    • Budaya
    • Ekonomi
    • Modus
    • Gaya Hidup
    • Metropolitan
    • Pemerintahan
    • Saburai

    Home » Ekonomi » Tapioka Lesu, Petani Singkong Lampung Terjepit: Solusi Terpadu Dibutuhkan Segera

    Tapioka Lesu, Petani Singkong Lampung Terjepit: Solusi Terpadu Dibutuhkan Segera

    by Irzon Dwi Darma
    21/08/2025
    in Ekonomi
    Tapioka Lesu, Petani Singkong Lampung Terjepit: Solusi Terpadu Dibutuhkan Segera

    Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama. Foto: Arsip pribadi

    Share on FacebookShare on Twitter

    Lappung – Lesunya permintaan tapioka di pasar global sepanjang 2024-2025 membuat petani singkong di Lampung kian terjepit.

    Harga singkong di tingkat petani anjlok hingga Rp900 per kilogram, sementara banyak pabrik tapioka di daerah ini berhenti beroperasi sejak akhir 2024.

    Baca juga : Permintaan Tapioka Dunia Anjlok, Petani Singkong Lampung Terjepit Harga Murah

    Menurut pemerhati pembangunan Mahendra Utama, kondisi itu harus segera dijawab dengan langkah strategis dan terpadu.

    “Lampung adalah lumbung singkong nasional, tapi selama ini petani hanya menjual dalam bentuk mentah.

    “Saat pasar global lesu, mereka langsung terkena dampaknya. Solusinya ada pada hilirisasi,” ujar Mahendra, Kamis, 21 Agustus 2025.

    Harga Anjlok, Petani Terpuruk

    Mahendra menjelaskan, petani kini hanya membawa pulang pendapatan sekitar Rp1 juta per bulan setelah dipotong biaya panen dan distribusi 15-20 persen.

    Kondisi tersebut dinilainya berbahaya bagi ketahanan ekonomi daerah yang selama ini bergantung pada komoditas singkong.

    “Ketergantungan penuh pada pabrik tapioka membuat posisi tawar petani sangat lemah.

    “Apalagi impor tapioka makin deras masuk, menambah tekanan di dalam negeri,” kata Mahendra.

    Baca juga : Tata Niaga Singkong Amburadul, Baleg DPR Cari Solusi di Lampung

    Berdasarkan data Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU), impor tapioka sepanjang 2025 sudah mencapai 59 ribu ton dengan nilai Rp511 miliar.

    DPR bahkan memperingatkan jumlah tersebut bisa menembus 100 ribu ton atau setara Rp1 triliun jika tidak dikendalikan.

    Hilirisasi Jadi Jalan Keluar

    Mahendra menekankan, hilirisasi adalah solusi kunci yang tidak boleh ditunda lagi.

    Menurutnya, singkong bisa diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah, mulai dari tepung mocaf, bioetanol skala rumah tangga, hingga keripik dan pangan olahan siap konsumsi.

    “Sejak hampir satu dekade lalu, usulan hilirisasi sudah ada, tapi realisasinya lambat.

    “Kalau petani mampu mengolah sendiri hasil panennya, mereka tidak akan sepenuhnya bergantung pada pabrik,” jelasnya.

    Ia juga menyebut penguatan koperasi petani sebagai langkah mendesak.

    Dengan koperasi, petani bisa memperjuangkan harga yang lebih adil, mengakses modal, dan berbagi fasilitas pengolahan.

    Baca juga : Rp50 Triliun Ekonomi Singkong Lampung Miris, Petani Kalah dari Impor Ilegal?

    Selain itu, Mahendra menilai pemerintah perlu segera menetapkan singkong sebagai pangan strategis, setara dengan padi, jagung, dan kedelai.

    “Kalau statusnya sudah pangan strategis, dukungan kebijakan dan sumber daya akan lebih jelas,” ujarnya.

    Rekomendasi Kebijakan

    Mahendra menguraikan sejumlah langkah yang perlu ditempuh untuk menyelamatkan petani singkong Lampung:

    Bagi petani:

    • Melakukan hilirisasi mandiri dengan mengolah singkong menjadi berbagai produk turunan.
    • Memperkuat koperasi dan jaringan lokal.
    • Mengadopsi varietas unggul, mekanisasi, serta teknologi agronomi modern.

    Bagi pemerintah daerah:

    • Membangun sentra pengolahan singkong skala mikro dan menengah.
    • Mempermudah akses permodalan.
    • Mendorong pengembangan bioetanol rumah tangga.

    Bagi pemerintah pusat:

    • Mengendalikan impor dengan kuota ketat dan transparan.
    • Menetapkan singkong sebagai pangan strategis.
    • Mengembangkan riset, inovasi, dan teknologi pengolahan singkong untuk pangan fungsional dan bioenergi.

    Lampung Butuh Sinergi Hulu-Hilir

    Mahendra mengingatkan, Lampung menyumbang sekitar 40 persen produksi singkong nasional dengan nilai devisa hingga Rp10 triliun per tahun, termasuk produk sampingan seperti onggok.

    Namun potensi besar itu terancam jika tidak ada sinergi lintas sektor.

    “Singkong Lampung bisa bangkit kalau ada kolaborasi nyata dari hulu ke hilir, antara petani, koperasi, pemerintah daerah, hingga pusat.

    “Ini bukan sekadar masalah harga sementara, tapi keberlanjutan ekonomi daerah dan nasional,” pungkas Mahendra.

    Baca juga : Protes Harga Tak Sesuai Janji, Petani Singkong Lampung Bentrok di Depan Kantor Gubernur

    Tags: Ekonomi LampungHarga Singkong AnjlokHilirisasi SingkongImpor Tapioka IndonesiaKoperasi Petani LampungKrisis tapioka 2025LampungMahendra UtamaPangan Strategis NasionalPemerhati PembangunanPetani Singkong TerjepitSingkong Lampung
    ShareTweetSendShare
    Previous Post

    Permintaan Tapioka Dunia Anjlok, Petani Singkong Lampung Terjepit Harga Murah

    Next Post

    Mentan Amran: Lampung Masuk Daftar Provinsi dengan Harga Beras Turun

    Related Posts

    Ekonomi

    Jaga Daya Beli di Bulan Suci, KORPRI Lampung Hadirkan Pasar Murah dan Rangkul 62 UMKM

    11/03/2026
    Ekonomi

    Harga Cabai Rawit Lampung Meroket, Ibu Rumah Tangga Menjerit!

    03/03/2026
    Ekonomi

    Disperindag Lampung Guyur Bataranila dengan Sembako Murah dan Subsidi

    15/02/2026
    Load More

    Populer Minggu Ini

    • 130 Ribu M3 LNG Mendarat di Lampung, PGN Pastikan Stok Aman

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Sekongkol Korupsi, Bupati Lampung Tengah, Adik Kandung, dan Anggota DPRD Resmi Rompi Oranye

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Jaga Daya Beli di Bulan Suci, KORPRI Lampung Hadirkan Pasar Murah dan Rangkul 62 UMKM

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Bidang Pengawasan Kejati Lampung Terima 15 Aduan

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Keindahan dan Sensasi Mendaki Gunung Seminung

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Rekrutmen PPPK 2023 Pemkab Lampung Selatan Dibuka, Cek Rinciannya 

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Bisnis Dan Kemitraan
    • Disclaimer
    • Term Of Service
    • Redaksi
    • Pedoman Siber
    • Kebijakan Privasi
    • Lappung

    © 2023 Lappung.com All Right Reserved

    No Result
    View All Result
    • APH
    • Budaya
    • Ekonomi
    • Modus
    • Gaya Hidup
    • Metropolitan
    • Pemerintahan
    • Saburai
    Lappung Media Network
  • Lappung
  • Lappung Balam
  • Lappung Bandar Jaya
  • Lappung Baradatu
  • Lappung Investigasi
  • Lappung Kalianda
  • Lappung Kotabumi
  • Lappung Literasi
  • Lappung Metro
  • Lappung Mahkamah
  • Lappung Menggala
  • Lappung Pekon
  • Lappung Pesawaran
  • Lappung Pringsewu
  • Lappung Politik
  • Lappung Tanggamus
  • Lihat Semua Media Network →

    © 2023 Lappung.com All Right Reserved

    Exit mobile version