Lappung – Di tengah data jumlah penumpang yang masih tertinggal dari bandara besar lain di Sumatera, Bandara Radin Inten II Lampung dinilai memiliki potensi strategis untuk dikembangkan sebagai hub udara (bandara penghubung) alternatif bagi Jakarta.
Letaknya yang dekat dengan ibu kota dan didukung infrastruktur konektivitas menjadi modal utama untuk menopang kepadatan lalu lintas udara nasional.
Baca juga : Membuka Pintu Dunia: Saat Pemerintah Memperbanyak Bandara Internasional
Berdasarkan data terbaru, jumlah pergerakan penumpang di Bandara Radin Inten II tercatat sekitar 515 ribu orang sepanjang tahun 2024.
Angka ini menunjukkan perbedaan yang signifikan jika dibandingkan dengan Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang yang melayani 2,8 juta penumpang pada periode yang sama, atau Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru dengan 2,75 juta penumpang pada 2023.
Namun, menurut pemerhati pembangunan Mahendra Utama, angka tersebut tidak seharusnya dipandang sebagai kelemahan, melainkan sebuah peluang yang belum tergarap maksimal.
“Angka yang lebih rendah ini justru membuka peluang strategis untuk menjadikan Radin Inten II sebagai hub udara alternatif bagi Jakarta.
“Saat Bandara Soekarno-Hatta semakin padat, kebutuhan akan bandara pendukung menjadi sangat nyata,” ujar Mahendra Utama, Senin, 22 September 2025.
Mahendra menjelaskan, posisi geografis Lampung menjadi keunggulan utama.
Dengan waktu tempuh penerbangan hanya sekitar 30 menit dari Jakarta, ditopang oleh operasional Jalan Tol Trans Sumatera dan Pelabuhan Bakauheni sebagai gerbang utama Jawa-Sumatera, Radin Inten II sangat ideal untuk memainkan peran sebagai simpul transportasi udara.
Baca juga : Lampung Terbang Tinggi: Penumpang Bandara Radin Inten Melesat 36 Persen
“Potensinya bukan hanya melayani penumpang tujuan Lampung, tetapi juga menopang mobilitas regional di wilayah Sumatera bagian selatan,” tambahnya.
Gagasan ini sejalan dengan arah kebijakan pemerintah pusat.
Kementerian Perhubungan sebelumnya telah menegaskan bahwa Indonesia memiliki modal kuat untuk menjadi air transit hub di tingkat internasional, yang membuka ruang bagi pengembangan bandara-bandara alternatif di luar Jakarta.
Meski demikian, Mahendra mengakui ada sejumlah tantangan yang harus diatasi untuk merealisasikan potensi tersebut.
“Konsistensi rute penerbangan, dukungan regulasi yang proaktif dari pemerintah, serta promosi masif untuk menjadikan Lampung sebagai pintu masuk pariwisata dan bisnis adalah kunci utamanya,” tegasnya.
Ia menyimpulkan, dengan sinergi yang tepat antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, pengelola bandara, dan maskapai penerbangan, Bandara Radin Inten II memiliki peluang besar untuk bertransformasi dari bandara regional menjadi hub udara yang vital bagi konektivitas nasional.
Baca juga : Membangkitkan Pariwisata Lampung: Solusi Nyata untuk 3 Kendala Klasik
